Film Para Perasuk tidak sepenuhnya mengusung genre horor meski judulnya kerap diasosiasikan dengan unsur mistis.
Hal tersebut diungkap para pemainnya, yakni Angga Yunanda (Bayu), Bryan Domani (Ananto), dan Chicco Kurniawan (Pawit).
Bryan menjelaskan, film ini lebih mengarah ke drama yang dibalut unsur komedi dan sedikit sentuhan thriller.
“Ini komedi slapstick, ya, kita filmnya,” ujar Bryan Domani saat ditemui di kumparan.
Ia kemudian meluruskan bahwa inti cerita tetap berfokus pada perjalanan karakter utama.
“Film drama. Ada bumbu komedi, ada thriller-nya, tapi intinya tetap drama, mengikuti cerita karakter Bayu,” lanjutnya.
Sementara itu, Angga menilai anggapan bahwa film ini horor muncul karena penggunaan istilah “perasukan” dalam judul.
“Karena ‘Perasuk’-nya itu, orang jadi menganggap ini mistis banget. Padahal ada banyak kebudayaan di Indonesia yang punya konsep seperti ini,” jelas Angga Yunanda.
Ia menambahkan, unsur perasukan dalam film ini dikemas secara fiksi, mulai dari latar desa, bahasa, hingga bentuk budaya yang ditampilkan, meski tetap terinspirasi dari praktik budaya di Indonesia dan Asia.
“Mulai dari Desa Latas-nya, bahasanya, corak kerasukannya, adatnya, semua dibuat sendiri,” tuturnya.
Bryan juga menegaskan bahwa film ini tidak dibuat untuk menakut-nakuti penonton.
“Bukan horor. Jauh dari horor. Bahkan 90 persen adegannya siang hari,” katanya.
Konsep perasukan yang dihadirkan pun berbeda, yakni melibatkan roh hewan, bukan sosok menyeramkan seperti yang umum ditemui di film horor Indonesia.
Selain membahas genre, para pemain juga mengungkap proses persiapan yang cukup panjang, termasuk belajar memainkan alat musik. Bryan Domani, Angga Yunanda, dan Chicco Kurniawan menjalani latihan selama hampir tiga bulan, mulai dari reading hingga sesi latihan musik intensif bersama pelatih.
“Ada sekitar hampir 3 bulan. Dua bulanan kita latihan musik bareng coach,” ujar Angga.
Ia mengaku proses tersebut cukup menantang, bahkan sempat merasa “terhantui metronom” selama latihan.
“Itu 2 bulanan kita ada latihan musik bersama ada coach kita namanya Bagas. Itu ngajarin kita bertiga, orang yang sangat sabar itu. Kita sempet ada latihan bareng-barengnya, ada latihan sendiri-sendirinya. Intinya aku terhantui oleh metronom,” kata Angga.
Sementara itu, Chicco menyebut dirinya mengalami kesulitan saat mempelajari alat musik.
“Aku tuh nggak achieve, karena nggak bisa… jadi pakai hand talent,” kata Chicco Kurniawan.
Film Para Perasuk merupakan karya sutradara Wregas Bhanuteja. Film ini bercerita tentang Bayu, seorang pemuda yang bercita-cita menjadi perasuk dalam sebuah pesta kerasukan di desanya.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026.





