Campak selama ini identik dengan penyakit anak. Namun, belakangan ini muncul pertanyaan, ‘apakah orang dewasa juga perlu vaksin campak?’. Pertanyaan ini muncul setelah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap bahwa sebagian kasus campak di Indonesia juga ditemukan pada kelompok usia dewasa.
Terlebih beberapa waktu lalu seorang dokter internship meninggal dunia di RS Cimacan, Cianjur, Jawa Barat, pada 26 Maret 2026 akibat komplikasi campak. Dokter tersebut sebelumnya menangani pasien yang terinfeksi campak.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa secara nasional sekitar 8 persen kasus campak terjadi pada kelompok dewasa usia di atas 18 tahun.
“Di mana faktor komorbid dan tingginya intensitas paparan menjadi pemicu risiko keparahan,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI, Aji Muhawarman, kepada kumparanMOM, Rabu (8/4).
Belum untuk Semua Orang DewasaMeski begitu, vaksin campak saat ini belum dianjurkan secara umum untuk semua orang dewasa. Kemenkes saat ini baru mempertimbangkan vaksinasi campak bagi kelompok tertentu yang berisiko tinggi, seperti tenaga medis dan tenaga kesehatan. Alasannya, kelompok ini lebih rentan terpapar virus campak dalam aktivitas sehari-hari.
Selain itu, Kemenkes juga sedang mempercepat analisis uji klinis vaksin untuk melihat kemungkinan perluasan program vaksinasi campak pada kelompok dewasa.
“Sebagai langkah strategis, pemerintah tengah mempercepat analisis uji klinis vaksin untuk memperluas program vaksinasi campak bagi kelompok dewasa. Namun belum dianjurkan secara umum untuk semua orang dewasa,” imbuhnya.
Kemenkes pun tetap mengimbau masyarakat dan tenaga kesehatan yang belum melengkapi status imunisasi agar segera melakukan vaksinasi sesuai kebutuhan untuk membantu memutus rantai penularan.
Kasus Campak di Indonesia MenurunKabar baiknya, kasus campak di Indonesia saat ini menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data Kemenkes per 30 Maret 2026, hingga minggu ke-12 tahun 2026, kasus harian suspek dan terkonfirmasi campak turun 93 persen.
Angkanya turun dari 2.220 kasus pada minggu pertama menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret. Penurunan ini terpantau konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota.
“Tren penurunan ini terpantau konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota dengan riwayat lonjakan kasus pada akhir 2025 dan awal 2026,” tutup Aji.





