Harga Nikel Menguat ke USD17.300, Pemangkasan Kuota Indonesia Dongkrak Sentimen

idxchannel.com
9 jam lalu
Cover Berita

Harga nikel dunia menguat ke kisaran USD17.300 per ton pada Rabu (8/4/2026), didorong optimisme pasar terhadap kebijakan pemangkasan kuota produksi Indonesia.

Harga Nikel Menguat ke USD17.300, Pemangkasan Kuota Indonesia Dongkrak Sentimen. (Foto: PAM Mineral)

IDXChannel - Harga nikel dunia menguat ke kisaran USD17.300 per ton pada Rabu (8/4/2026), didorong optimisme pasar terhadap kebijakan pemangkasan kuota produksi Indonesia untuk 2026.

Kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang berada di kisaran 190-200 juta ton memberi sinyal disiplin produksi, sehingga membantu menjaga stabilitas harga di rentang USD17.000-USD17.400 per ton meski pasar masih menghadapi kelebihan pasokan global.

Baca Juga:
Harga Logam Dasar: Tembaga Melonjak usai Gencatan Senjata AS-Iran

Sentimen investor pun tetap terjaga, walau proyeksi surplus nikel pada 2026 masih membatasi kenaikan harga.

Mengutip Trading Economics, permintaan nikel global masih relatif lemah seiring produksi baja nirkarat yang melimpah dan aktivitas manufaktur yang belum pulih kuat.

Baca Juga:
MNC Digital (MSIN) Ungkap Alasan di Balik Rencana Listing di Bursa Luar Negeri

Adopsi sektor baterai juga belum memberikan dorongan permintaan signifikan dalam waktu dekat.

Selain itu, dukungan kebijakan muncul dari Australia Barat yang menawarkan pinjaman tanpa bunga untuk membantu penambang nikel kembali beroperasi dan meningkatkan produksi.

Baca Juga:
Melesat 4,42 Persen, IHSG Ditutup ke 7.279

Soal logam dasar lainnya, harga tembaga melonjak ke level tertinggi dalam tiga pekan setelah gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan selera risiko pasar.

Kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik sekitar 3 persen ke kisaran USD12.680-USD12.690 per ton, level tertinggi sejak 18 Maret.

Analis ING menyebut, dikutip Dow Jones Newswires, meredanya kekhawatiran terhadap jalur pelayaran global menjadi penopang utama sentimen pasar logam.

Ke depan, arah harga logam akan ditentukan oleh keberlanjutan gencatan senjata serta kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), termasuk komunikasi Federal Reserve (The Fed), data inflasi, dan pergerakan imbal hasil riil.

Analis Marex Edward Meir menilai, dikutip Reuters, penurunan tajam harga minyak turut memperkuat prospek logam dasar karena menurunkan risiko perlambatan ekonomi global.

Harga minyak yang merosot lebih dari 13 persen setelah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz mengurangi potensi guncangan energi yang dapat menekan pertumbuhan dan manufaktur dunia.

Pelemahan dolar AS ke level terendah dalam sebulan juga membuat komoditas berbasis dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga mendukung kenaikan harga logam.

Logam dasar lainnya turut menguat. Aluminium London naik 0,1 persen menjadi USD3.479 per ton, sementara kontrak aluminium paling aktif di Shanghai menguat 0,5 persen ke 24.760 yuan per ton.

Di antara logam lain di London Metal Exchange (LME), timah melonjak 4,7 persen, seng naik 0,5 persen, timbal bertambah 0,7 persen, dan nikel menguat 2 persen.

Sementara di Shanghai Futures Exchange (SHFE), seng naik 0,8 persen, timbal bertambah 0,5 persen, timah menguat 4,1 persen, dan nikel naik 0,3 persen. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mengenal Diet Tiongkok yang Bisa Turunkan BB 5 Kg dalam 5 Hari
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
GKR Mangkubumi Bicara Peluang Rute Kereta Api sampai Bantul
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Fuel Surcharge Naik, Garuda Indonesia Bakal Sesuaikan Harga Tiket
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Andrie Yunus Tulis Surat Ajakan Amicus Curiae Gugatan UU TNI
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Tabrakan Beruntun di Wonosobo, 1 Orang Meninggal dan 3 Terluka | INDONESIA UPDATE
• 8 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.