Tangis Pilu Cinta Simorangkir Usai Longsor Merenggut Ayah dan Ibunya

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Cinta Simorangkir (18) tak henti menangis di tenda pengungsian korban bencana longsor di Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Bencana longsor yang terjadi pada Selasa (7/4/2026) itu merenggut nyawa ayah dan ibunya bersama tiga warga lain.

Cinta hanya bisa duduk menangis dan termenung di dalam tenda, Rabu (8/4). Tatapannya kosong. “Bapak sama mama sudah enggak ada lagi,” katanya berulang kali setiap kali sanak saudara atau temannya datang menemuinya.

Bencana longsor itu menimbun sembilan rumah yang berada di bawah perbukitan di tepi Sungai Sembahe. Rumah-rumah itu rusak berat tertimbun tanah dari bukit-bukit yang longsor. Bencana membuat kawasan wisata Sungai Sembahe itu pun menjadi pilu.

Cinta merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Mereka bertiga selamat karena saat longsor terjadi sedang bekerja. Cinta sedang bekerja di sebuah rumah makan di dekat rumahnya. Dia seharusnya sudah pulang ke rumah dan bertemu kedua orangtuanya. Namun, dia menunggu hujan reda.

Cinta terkejut ketika mendengar kabar sembilan rumah di permukimannya telah tertimbun longsor, termasuk rumah keluarganya. Kabar itu datang dari Dotra Purba (50), warga yang berhasil menyelamatkan diri dari rumahnya yang tertimbun.

“Rumah saya sudah tertimbun lebih dari satu meter. Pintunya tidak bisa lagi dibuka. Saya beruntung masih bisa keluar dari jendela,” kata Dotra.

Dotra mengisahkan, hujan deras mengguyur kawasan Sibolangit sejak Selasa sore. Sekitar pukul 19.00 WIB, sebagian warga sudah meninggalkan rumah karena khawatir bencana longsor terjadi. Namun, beberapa warga tetap bertahan di dalam rumah. Rumah-rumah itu berada di bawah perbukitan terjal di pinggir Sungai Sembahe.

Baca JugaSembilan Rumah Tertimbun Longsor di Deli Serdang, Lima Orang Tewas

Sekitar pukul 20.30, Dotra mengaku mendengar suara gemuruh dari atas bukit. Dalam sekejap, tanah longsor sudah menimbun rumahnya. Sebagian besar warga selamat karena malam itu sudah mengungsi dan sebagian lagi belum bisa pulang karena masih bekerja atau berada di warung.

Warga lainnya, Surya Darma Ginting (60), sedang berada di warung malam itu. Setelah mendapat kabar tentang bencana longsor, dia menembus hujan untuk melihat kondisi rumahnya. Waktu itu, dia tidak tahu apakah anaknya sudah berada di rumah atau masih berada di tempat kerja.

Surya bersama beberapa warga lainnya membawa senter masuk ke permukiman mencari warga yang hilang. Listrik sudah padam sejak hujan deras melanda. Jalan Medan-Berastagi macet parah karena longsor terjadi di beberapa titik.

“Suasana malam itu sangat mengerikan. Kami tidak tahu kabar saudara-saudara kami di tengah hujan lebat dan gelap gulita. Kami semua yang tinggal di sana masih bersaudara. Ibunya Cinta adalah adik saya,” kata Surya.

Surya bersama warga lainnya mencoba melihat kondisi rumah-rumah yang tertimbun dan melihat situasi apakah bisa mencari dan menolong korban yang masih hilang.

Baca JugaLima Kabupaten dan Kota di Bengkulu Diterjang Banjir, Terparah di Lebong

Mereka melihat kondisi perbukitan masih tidak stabil. Di tengah hujan dan gelap, warga mencari ke beberapa rumah. Mereka lalu menemukan satu perempuan lanjut usia, Sehat Tarigan (70), terjebak di dalam rumah. Sehat mengalami luka dan tidak bisa menyelamatkan diri.

Surya bersama tiga warga lainnya berjibaku mencari jalan agar bisa masuk ke rumah menyelamatkan Sehat. Mereka berhasil mendobrak dinding rumah dan merangkak melewati timbunan longsor agar bisa masuk ke dalam rumah.

Surya menyebut, mereka sempat panik karena khawatir longsor susulan terjadi. Bukit terjal bekas longsor masih menganga di atas mereka. Mereka lalu mengajak Sehat merangkak menaiki tanah liat yang lembek. “Setelah melakukan berbagai upaya, kami akhirnya bisa keluar dari rumah itu,” kata Surya.  

Setelah lebih dari dua jam berlalu, Surya belum mengetahui nasib anaknya, apakah berada di rumah atau tidak. Rumah Surya sudah rata tertimbun tanah. Sementara, nomor telepon anaknya tidak aktif. Dia menelepon beberapa teman sang anak, tetapi tidak ada yang tahu kabarnya.

“Sampai akhirnya, saya tersambung dengan teman kerjanya. Ternyata anak saya masih berada di tempat kerja. Dia tidak bisa pulang karena hujan deras. Saya menangis setelah mendengar suara anak saya ditelepon,” ucap Surya.

Baca JugaBanjir Berulang di Demak, Warga Mendesak Normalisasi Sungai dan Penguatan Tanggul

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Medan, Hery Marantika, mengatakan, pihaknya langsung mengerahkan personel setelah mendapat informasi tentang bencana longsor di Sibolangit.

Namun, tim SAR gabungan dari Kantor SAR Medan, Kepolisian Resor Kota Besar Medan, dan Brimob Polda Sumut, baru mulai bisa melakukan operasi pencarian pada Rabu sekitar pukul 03.15 setelah kondisi dinyatakan aman untuk melakukan pencarian.

Petugas mengerahkan sejumlah personel dan juga alat berat untuk melakukan operasi pencarian di permukiman seluas 500 meter persegi itu.

Upaya pencarian pun membuahkan hasil setelah korban pertama atas nama Rizki Sembiring (14) ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pukul 04.08 WIB. Korban tewas lain yang ditemukan dalam operasi yang dilakukan hingga pukul 07.00 itu adalah Boy Simorangkir (48) dan istrinya, Jamilah Ginting (49), serta Rosilawati Ginting (48) dan Gobal (39). Boy dan Jamilah adalah orangtua Cinta.

“Petugas gabungan telah menemukan lima korban yang dilaporkan hilang. Semua korban ditemukan dalam keadaan meninggal,” kata Hery.

Suasana malam itu sangat mengerikan. Kami tidak tahu kabar saudara-saudara kami di tengah hujan lebat dan gelap gulita

Hery mengatakan, pencarian tidak bisa langsung dilakukan karena hujan deras masih turun dan ada potensi longsor susulan. Lalu-lintas Jalan Medan-Berastagi menuju lokasi juga macet parah.

Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan mengatakan, pihaknya berfokus menangani sembilan keluarga korban longsor. Untuk sementara, warga memilih mengungsi ke rumah saudaranya masing-masing.

”Kalau nanti mereka tidak punya tempat, kami siapkan tempat penampungan sementara. Semua kebutuhan dasar korban longsor itu akan kami penuhi selama mereka mengungsi,” kata Asri.

Pemerintah Kabupaten Deli Serdang juga melakukan mitigasi dengan sosialisasi ke warga yang bermukim di daerah-daerah rawan longsor. Ada lima lokasi yang longsor di Deli Serdang, tetapi longsor di lokasi lainnya tidak menyebabkan korban.

Menurut Asri, peringatan mengenai cuaca sudah disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejak lima hari lalu. Pemerintah meminta warga yang bermukim di daerah-daerah rawan banjir dan longsor meningkatkan kewaspadaan ketika hujan turun.

Di tenda pengungsian, Cinta masih duduk menangis. Bencana hidrometeorogi itu telah merenggut ayah dan ibunya. “Bapak sama mama sudah enggak ada lagi,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bantah Telat ke Persidangan, Pihak Nikita Mirzani Minta Keadilan
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Xiaomi 17 Fold Dikabarkan Segera Rilis Usai Absen pada 2025, Ini Bocorannya
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Waspada! Penipuan Rekrutmen KAI Marak di TikTok, Ini Modusnya
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
FBS UNM Perluas Program Studi, Humas dan Komdigi Jadi Andalan Baru
• 9 jam laluterkini.id
thumb
Para Pemain Tegaskan “Para Perasuk” Bukan Film Horor: 90 Persen Isinya Siang
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.