Kedutaan Besar Inggris mengunjungi Stasiun Yogyakarta, Selasa (8/4). Pertemuan ini dihadiri pimpinan PT KAI Daop 6 Yogyakarta Bambang Respationo, perwakilan Keraton Yogyakarta Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, serta Pemerintah Daerah (Pemda) DIY yang diwakili Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti beserta jajaran.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey CVO OBE, menyatakan Inggris memberikan dukungan teknis untuk menciptakan sistem mobilitas perkotaan rendah karbon, terintegrasi, dan inklusif di DIY. Dukungan tersebut mencakup pembangunan fisik hingga penyusunan regulasi strategis sebagai dasar pengembangan kawasan perkotaan.
“Inggris berkomitmen untuk terus memperdalam kerja sama dengan Yogyakarta dan wilayah sekitarnya demi masa depan yang lebih bersih, lebih inklusif, dan lebih sejahtera,” kata Jermey kepada awak media di area Stasiun Yogyakarta, Rabu (8/4).
“Ada beberapa proyek Inggris di Yogyakarta seperti Transit Oriented Development,” tambahnya.
Bantuan teknis yang diberikan antara lain berupa kajian pengembangan Transit Oriented Development (TOD) dan Land Value Capture.
GKR Mangkubumi menyebut kerja sama tersebut masih dalam tahap diskusi awal. Ia menekankan pengembangan transportasi modern harus berjalan beriringan dengan pelestarian identitas budaya, khususnya di kawasan heritage.
“Ya, tadi hasil diskusinya kita ingin ada penataan kawasan untuk utamanya untuk transportasi. Kemudian studi bersama untuk kawasan-kawasan heritage lah gitu agar kawasan heritage itu tidak rusak, tidak hilang. Nah, kita juga menjaga tidak hanya dari transportasi tapi juga dari sisi apa tadi ada lingkungannya juga,” kata GKR Mangkubumi.
“Baru ngobrol-ngobrol awal karena mereka sangat concern terhadap pengembangan kereta api,” tambahnya.
Dari sisi kebijakan, Pemerintah Daerah DIY memfokuskan pengembangan kawasan TOD pada koridor strategis, termasuk jaringan stasiun di DIY. Skema kerja sama dengan pihak ketiga disiapkan untuk mendukung investasi proyek tersebut.
“Tugu ke YIA itu kan sekitar 5 stasiun, tapi yang aktif kan di sini sama Wates ya. Di tata ruang, sudah didesain tapi kan belum terbangun dengan baik. Harapan yang besar kalau ini sudah menjadi TOD bisa langsung. Kita bisa menyediakan perumahan yang memang layak juga untuk pekerja-pekerja,” kata Made.
“Cuma itu kan butuh investasi. Nah ini yang kerjasama kita dengan pihak UK PEC. Nanti mereka yang akan menyediakan proposalnya, kemudian ini akan ditawarkan juga siapa yang bisa,” tambahnya.
Selain proyek infrastruktur, Pemda DIY juga menyoroti keberlanjutan angkutan tradisional seperti becak dan andong. Pemerintah menilai tantangan elektrifikasi tidak hanya pada pengadaan unit, tetapi juga pada sistem manajemen dan pemeliharaan.
Dukungan dari Inggris diharapkan mencakup pendampingan operasional agar transportasi ramah lingkungan tersebut dapat berfungsi secara berkelanjutan.





