JAKARTA, KOMPAS.TV – Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang disepakati menjelang ultimatum serangan, dinilai bukan akhir konflik, melainkan sekadar "tactical pause" atau jeda taktis di tengah “perang daya tahan” yang masih berlangsung.
Di balik klaim kemenangan dari kedua pihak, para analis melihat posisi Washington justru tertekan secara strategis.
Peneliti senior keamanan Indo-Pasifik, Aisha Kusumasomantri, menilai AS memang unggul secara militer, namun berada dalam posisi sulit secara keseluruhan.
“Amerika Serikat jelas ini sebenarnya terpojok secara strategis tetapi menang secara taktikal,” ujarnya dalam diskusi di Kompas Petang Kompas TV, Rabu (8/4/2026).
Menurut Aisha, Presiden AS Donald Trump menerapkan strategi coercive diplomacy, yakni kombinasi tekanan militer dan diplomasi untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan.
Baca Juga: Kemlu RI: Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata Iran dan AS
Strategi ini memanfaatkan kekuatan militer AS yang unggul, mulai dari angkatan laut hingga angkatan udara yang disebut paling kuat di dunia.
Namun, pendekatan tersebut tidak sepenuhnya mulus karena diimbangi dengan tekanan dari dalam negeri. Aisha menilai kondisi domestik AS turut mempersempit ruang gerak Washington.
Kenaikan harga bahan bakar dan bahan pokok, serta tekanan dari oposisi di Kongres dan masyarakat, menjadi faktor penting.
Konflik ini, menurut Aisha, telah bergeser menjadi game of endurance—pertarungan siapa yang paling mampu menahan beban perang.
"Nah, di sini adalah game of endurance. Jadi, siapa yang menahan beban perang yang semakin berat? Inilah yang pemenangnya gitu," ucapnya.
Pada awalnya, Iran disebut enggan menerima gencatan senjata karena merasa semakin lama konflik berlangsung, semakin besar leverage yang bisa mereka bangun. Namun, situasi berubah dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Isi Proposal Gencatan Senjata 10 Poin Tuntutan Iran, Jaminan Tak Ada Agresi Baru-Bayar Kompensasi
Aisha mengungkapkan dua faktor utama yang menjadi titik balik bagi Iran. Pertama, terbunuhnya sejumlah petinggi militer, termasuk dari struktur intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Divisi 840 yang menangani operasi non-konvensional.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- perang Iran AS terbaru
- gencatan senjata iran AS
- gencatan senjata
- perang iran as
- donald trump
- iran





