Bos BI Sebut Ruang Penurunan BI Rate Makin Sempit Imbas Perang Timur Tengah

wartaekonomi.co.id
4 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menilai ruang untuk menurunkan suku bunga acuan BI Rate semakin terbatas di tengah memburuknya kondisi global akibat eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan bank sentral memutuskan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen dengan tetap mengedepankan stabilitas ekonomi dan keuangan.

“Mengenai suku bunga, BI Rate kami pertahankan di 4,75 persen. Namun, ke depan ruang penurunannya kemungkinan semakin tertutup dan kami harus menyikapinya dengan menjaga stabilitas,” ujar Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, eskalasi konflik geopolitik berdampak luas melalui berbagai jalur, mulai dari komoditas, pasar keuangan, hingga perdagangan global.

Ia menjelaskan, konflik tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) surat berharga pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), baik tenor 2 tahun maupun 10 tahun. Kenaikan yield dipicu oleh meningkatnya defisit fiskal AS, terutama untuk pembiayaan perang.

Kondisi ini dinilai perlu direspons dengan kebijakan yang tetap fokus pada stabilitas, khususnya di pasar keuangan dan nilai tukar. Selain itu, konflik di kawasan Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga minyak dunia yang semakin menekan prospek ekonomi global.

“Adanya perang di Timur Tengah menyebabkan harga minyak global dan yield meningkat. Hal ini dipicu oleh kenaikan defisit fiskal Amerika Serikat, termasuk untuk anggaran perang, dan akan berdampak ke Indonesia,” tuturnya.

Perry menambahkan, dampak lanjutan dari situasi tersebut adalah meningkatnya aliran modal asing keluar (capital outflow) dari negara berkembang ke pasar keuangan global. Sejak eskalasi konflik meningkat, arus dana keluar tercatat cukup besar dari berbagai instrumen, mulai dari obligasi, saham, hingga aset keuangan lainnya.

Dalam proyeksinya, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 hanya mencapai 3,1 persen, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,2 persen. Sementara itu, inflasi global diperkirakan meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen.

Kenaikan inflasi tersebut berpotensi menahan penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: Likuiditas Masih Longgar, BI Catat Uang Primer Capai Rp2.396,5 Triliun, Tumbuh 16,8%

Baca Juga: Inflasi Maret 2026 Terkendali di 3,48%, BI Yakin Tetap Stabil

Baca Juga: BI Catat Uang Beredar Tembus Rp10.089,9 triliun pada Februari 2026

“Secara umum kebijakan moneter global masih akomodatif, tetapi kecepatan penurunan suku bunganya menjadi lebih lambat,” pungkasnya.

Sebagai informasi, sepanjang 2025 BI Rate telah diturunkan sebanyak tiga kali hingga kini berada di level 4,75 persen.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sah! KNVB Putuskan Dean James Terbebas dari Dakwaan Polemik Paspor: Bebas dari Hukuman Disiplin
• 2 jam lalubola.com
thumb
Danantara: Finalisasi Whoosh Segera Diumumkan, Operasional Tetap di KAI
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Bicara Pergantian Pemerintah, Presiden Prabowo: Ada Mekanismenya
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Bareskrim Tangkap Direktur Tempat Hiburan Malam di Jakut Terkait Kasus Narkoba
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
BPOM Akan Bertemu BNN Bahas Wacana Aturan Pelarangan Vape
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.