Bank Dunia: Ekonomi Sebagian Negara Asia Pasifik Akan Melemah Imbas Perang Iran

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik akan melambat pada 2026.

Perlambatan tersebut terjadi seiring eskalasi perang di Timur Tengah hingga melemahnya pertumbuhan di China maupun negara-negara lain di kawasan tersebut.

Chief Economist of the East and Pacific Region World Bank, Aaditya Mattoo, mengatakan sebagian besar negara di kawasan tersebut diperkirakan mencatat pertumbuhan yang lebih rendah pada 2026 jika dibandingkan 2025.

“Namun, kabar baiknya, terdapat potensi pemulihan pada 2027 di mana banyak negara diproyeksikan mengalami rebound, dengan harapan berbagai tantangan yang menekan pertumbuhan tahun ini akan mulai mereda, meskipun tidak sepenuhnya hilang,” kata Aaditya dalam Media Briefing yang diadakan secara daring, Rabu (8/4).

Dalam catatannya, pertumbuhan kawasan EAP diperkirakan berada di kisaran 5,0 persen pada 2025, kemudian turun menjadi 4,2 persen pada 2026, sebelum kembali naik ke sekitar 4,5 persen pada 2027.

Perlambatan ini juga tercermin di China yang diproyeksikan turun dari sekitar 5 persen pada 2025 menjadi 4,2 persen pada 2026, lalu sedikit meningkat ke kisaran 4,3 persen pada 2027.

Sementara untuk Indonesia diproyeksikan relatif stabil di kisaran 5,1 persen pada 2025, sedikit turun ke 4,7 persen pada 2026, dan kembali naik ke sekitar 5,2 persen pada 2027.

Aaditya menyebutkan, terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan di kawasan tersebut, yakni konflik di Timur Tengah, berlanjutnya pembatasan perdagangan, serta tingginya ketidakpastian kebijakan.

Dua faktor pertama dinilai sebagai tekanan negatif yang signifikan, mengingat tingginya ketergantungan kawasan terhadap energi dan perdagangan. Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence menjadi faktor positif secara global.

“Namun, terdapat kekhawatiran bahwa kawasan ini, meski sangat terpapar dampak negatif, justru belum sepenuhnya siap memanfaatkan peluang dari perkembangan positif tersebut,” lanjut Aaditya.

Meski dihadapkan pada tekanan global, kawasan ini dinilai masih memiliki peluang untuk menentukan arah pertumbuhannya melalui kebijakan makroekonomi yang tepat.

“Hal ini mencakup dukungan bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam jangka pendek, serta reformasi struktural yang lebih dalam guna memungkinkan pemulihan dari krisis, sebagaimana yang telah berhasil dilakukan pada krisis-krisis sebelumnya,” jelasnya.

Bank Dunia mencatat, risiko geopolitik saat ini disebut meningkat tajam, seiring dengan lonjakan harga minyak dan gas. Bahkan, proyeksi di pasar berjangka menunjukkan harga minyak berpotensi meningkat hingga USD 20 dalam satu tahun ke depan dibandingkan sebelum krisis saat ini.

Aaditya menuturkan dampak terhadap kawasan diperkirakan terjadi melalui berbagai saluran, mulai dari kenaikan biaya produksi seperti energi, pupuk, dan pangan, gangguan rantai pasok akibat hambatan jalur pelayaran dan meningkatnya biaya transportasi, hingga tekanan pada sektor industri seperti semikonduktor yang dapat merambat ke seluruh rantai produksi.

Selain itu, pengetatan kondisi pembiayaan, pelebaran spread, meningkatnya aliran dana ke aset aman, serta kenaikan biaya pinjaman dinilai berpotensi menahan investasi.

Ketidakpastian yang tinggi, lemahnya sentimen bisnis, serta rendahnya investasi juga diperkirakan akan menekan pertumbuhan global.

“Negara-negara yang bergantung pada remitansi, seperti Filipina, juga berpotensi terdampak karena aliran remitansi dari kawasan Teluk dapat menurun, padahal kontribusinya mencapai sekitar 1,5 persen terhadap PDB,” ucap Aaditya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Emas Antam Naik Rp 50.000 Jadi Rp 2.900.000/Gram, Galeri24 di Rp 2.865.000/Gram
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Waspadalah Jika Banyak Cicak di Rumah, Ini Penjelasan Ustaz Adi Hidayat
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Korban Tewas Kebakaran SPBE Cimuning Bekasi Bertambah Jadi 3 Orang
• 12 jam lalukompas.com
thumb
Pengamat Minta Hakim Objektif Tangani Perkara DJKA Kemenhub Medan
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Konflik Timur Tengah Buat Harga Plastik Naik, Kemenperin Pastikan Stok Aman
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.