Corak Eksistensi Kierkegaard: Kritik atas Budaya Massa

kumparan.com
23 jam lalu
Cover Berita

Soren Kierkegaard adalah seorang yang dikenal sebagai pelopor pertama dan sekaligus tokoh terpenting dalam eksistensialisme. Ia dilahirkan pada tanggal 5 mei 1813 di Kopenhagen dan merupakan anak terakhir dari tujuh bersaudara.

‎Kierkegaard mengawali arah berfilsafat yang bercorak baru sebagai reaksi keras terhadap Hegel yang dianggap hampir tidak memberi tempat bagi individu, di mana dalam aturan Hegel, seluruh perjalanan sejarah dan peradaban hanyalah siasat dari ruh absolut untuk berkembang dan menemukan dirinya.

Akibatnya, individu bahkan tokoh-tokoh besar dan negara sekadar menjadi alat dalam proses perkembangan si ruh besar ini. Kehidupan manusia konkret kemudian tidak terasa penting baginya.

‎Karena itu, kemudian Kierkegaard menghantam Hegel dengan bilang bahwa filsafat seharusnya berbicara tentang kehidupan individu konkret, tentang eksistensi yang dijalani manusia secara personal—sehari-harinya bahkan, bukan tentang abstraksi impersonal yang seolah-olah menghapus manusia.

‎Kritik Kierkegaard atas Budaya Massa

‎Masuk pada kritik Kierkegaard terhadap budaya massa, saya akan menulis dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

‎Pertama, tahap ini menjadi latar penting pemikirannya yang ditujukan kepada masyarakat industri modern seperti saat ini. Masyarakat industri ditandai oleh budaya massa, yang membuat individu menjadi egaliter, mulai dari pemikiran yang sama, bertindak yang sama, dan menikmati hal yang sama, sehingga individu tidak lagi berpikir dan bertindak sekuler atas dirinya sendiri—mereka terasing dari dirinya sendiri. Ia terpaksa menyatu dalam arus besar yang homogen, kehilangan keunikan, kehilangan kedalaman personalnya.

‎Kedua, budaya ilmiah modern juga dihantam keras oleh Kierkegaard. Menurutnya, budaya ilmiah adalah bentuk resmi dari budaya massa. Mengapa demikian? Jawabannya karena dalam tradisi ilmiah, kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang objektif—sesuatu atas konsensus bersama.

Bila kebenaran ditentukan oleh konsensus, ia dengan mudah berubah menjadi pendapat massa. Kebenaran ilmiah dapat mengarah pada produksi kebenaran massal atau intersubjektivitas berubah menjadi tekanan homogenis.

‎Di dalam masyarakat industri, budaya massa dan budaya ilmiah membuat opini publik sangat mudah dimobilisasi. Media massa—baik televisi, internet, koran, dan semacamnya—menjadi alat efektif untuk membentuk pendapat umum.

Misalnya peristiwa-peristiwa viral akhir-akhir ini: seorang komedian yang memulai pertunjukan spesial stand-up comedy-nya dan ditayangkan dalam platform media sosial, lalu secara gamblang dianggap melecehkan agama—si komedian tadi sangat cepat dipersekusi secara opini sebelum proses hukum berlangsung, dan akhirnya opini massa sudah telanjur membentuk citra: penghujat, penista, ateis tidak bermoral, dan seterusnya. Opini massa terasa objektif, seolah-olah kebenaran sudah diputuskan, padahal persoalan itu masih sangat mungkin diperdebatkan.

Inilah yang disebut sebagai tirani massa. Objektivitas berubah menjadi aneh, lalu apa yang kemudian disepakati banyak orang seolah dianggap benar, meski sesungguhnya sangat rapuh. Massa mudah dimanipulasi dan mudah diarahkan oleh keganasan media, seseorang hancur seketika tanpa alasan yang layak.

Kita sering melihat bagaimana isu-isu penting terabaikan, "pejabat korup", "polisi membunuh warga" "tentara pun juga begitu" Intinya, terjadi pergeseran terkait dengan berbagai kebaikan untuk publik dan masyarakat, sementara hal-hal sensasional dibesar-besarkan.

Kasus-kasus skandal selebritas, misalnya, diberi ruang yang sangat tidak proporsional. Ini hanyalah beberapa contoh bagaimana media massa bekerja bukan pada kepentingan publik, melainkan pada sensasi dan tukar tambah komersialisasi.

‎Lebih jauh, budaya massa menghasilkan demoralisasi. Dalam atmosfer massa, suara hati individu nyaris tidak terdengar. Contoh ekstrem terjadi pada kerusuhan dalam sebuah konser atau fenomena holiganisme, di mana satu orang memulai kekerasan atau melempar botol karena dinilai pandangannya dihalangi oleh orang lain, lalu dilempar dan massa bergerak mengikuti. Ketika korban jatuh, tidak ada satu pun individu yang merasa bertanggung jawab karena semua bersembunyi di balik kerumunan.

‎Jadi, massa merasa kuat, padahal sebenarnya tidak ada kekuatan personal di sana. Identitas menjadi semu, seorang pemalu, bahkan culun pun, dapat merasa gagah hanya karena bergerak bersama ribuan orang. Namun begitu ia sendirian, ia kembali menjadi "nobody"—di situlah individu kehilangan eksistensi di dalam budaya massa.

‎Karena itu, bagi Kierkegaard, revolusi sosial sejatinya tidak terjadi melalui mobilisasi massa, tetapi melalui transformasi individu. Individu tidak boleh tenggelam dalam massa. Perubahan sosial dimulai dari keberanian personal seseorang untuk berubah.

‎Contohnya sangat banyak. Salah satunya dalam bidang filsafat. Para filsuf besar seperti Socrates, misalnya, mendapat tuduhan telah menyesatkan para pemuda Athena dan menentang para dewa, sehingga ia divonis hukuman mati.

‎Kierkegaard memberikan julukan kepada Socrates sebagai “tragic hero” (pahlawan tragis), sebab ia rela menyerahkan dirinya demi ketentraman bersama. Meskipun murid-muridnya ingin membantu ia agar bebas dari hukuman mati, ia tidak mau.

Bagi Kierkegaard, pengorbanan yang dilakukan oleh Socrates ini mencerminkan seorang individu yang telah berani mengambil keputusan. Ia telah menerima kaidah-kaidah moral dan mengikuti suara batinnya. Ia membela kebenaran berdasarkan nilai-nilai objektif yang universal. Ini menunjukkan bahwa transformasi individu jauh lebih kuat daripada mobilisasi massa.

‎Terakhir yang ingin penulis sampaikan, bahwa transformasi individu, menurut Kierkegaard, adalah persoalan keberanian memilih nilai hidup dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Karena hidup adalah soal pilihan eksistensial. Dan semua kritik yang sudah dilontarkan di atas, terangkum dalam karya-karyanya seperti The Works of Love, yang biasa disebut sebagai "Manifesto Komunis".


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Contoh Khutbah Jumat: Cara Tingkatkan Kualitas Ibadah dengan Metode 3M
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Liga Champions: Griezmann Minta Atletico Berbenah meski Bungkam Barcelona
• 21 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Bunuh dan Mutilasi Ibu Kandung, Pemuda di Lahat Terancam Hukuman Mati
• 15 jam lalukompas.id
thumb
Dihujani Pertanyaan Soal Pernikahan, Syifa Hadju Pilih Diam, Rambut Sleek-nya Malah Bikin Salfok!
• 20 jam lalugrid.id
thumb
OCBC Tebar Dividen Rp 1,03 Triliun, Laba Bersih Tembus Rp 5,1 Triliun di 2025
• 15 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.