Bisnis.com, DENPASAR – Kementerian Perhubungan bakal membangun Pelabuhan penumpang baru di Bali untuk mengurai kemacetan di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk.
Dalam masterplannya, Kemenhub bersama Pemerintah Provinsi Bali merencanakan empat Pelabuhan Baru untuk angkutan logistik, yakni di Celukan Bawang, Sangsit di Kabupaten Buleleng. Kemudian dua Pelabuhan di Kabupaten Karangasem tepatnya di Amed dan Gunaksa.
Awalnya Pelabuhan ini ditawarkan kepada pihak swasta, akan tetapi saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi V DPR RI dengan Kemenhub dan Gubernur Bali, Ketua Komisi V, Lasarus meminta agar pembangunan Pelabuhan menggunakan APBN agar lebih cepat, mengingat kebutuhan Pelabuhan baru sudah mendesak.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan pembangunan pelabuhan logistik baru sudah mendesak, karena dengan kemacetan hingga 30 km di Gilimanuk saat mudik lebaran menandakan pelabuhan logistik dan penumpang harus dipisah.
"Seperti Pak Gubernur saksikan kemarin itu (mudik), tidak bisa lagi menyatukan antara kendaraan berat dengan kendaraan kecil dimana kapasitas Pelabuhan sudah tidak memadai lagi, apalagi tahun depan hari raya Nyepi dan Idulfitri berdampingan," kata Dudy dikutip dari TV Parlemen, Kamis (9/4/2026).
Agar investasi pembangunan lebih murah, pembangunan akan dilakukan dengan konsep dermaga Plengsengan. "Dengan konsep ini akan lebih murah, tinggal nanti Gubernur menyiapkan lahan," kata Dudy
Baca Juga
- Proyek PSN Mandek, Pemprov Bali Pertanyakan Kelanjutan Tol Gilimanuk-Mengwi
- Tol Gilimanuk-Mengwi Dilelang 2027, Biaya Investasi Tembus Rp12,7 Triliun
- Bali Usul Distribusi Logistik ke 4 Pelabuhan Alternatif Buntut Macet Gilimanuk
Dudy juga menjelaskan, di Pelabuhan Celukan Bawang, Pemerintah menugaskan Pelindo mengembangkan dermaga 1 dan dermaga 2. Dua dermaga ini akan melayani Penumpang, Logistik hingga aspal curah.
Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan siap menyediakan lahan yang diperlukan untuk pembangunan.
Koster juga menjelaskan lonjakan kendaraan dari Jawa ke Bali saat musim libur dan hari raya kerap menyebabkan kemacetan parah akibat keterbatasan kapasitas pelabuhan penyeberangan.
“Kami ingin ada alternatif penyeberangan dari Ketapang langsung ke wilayah Bali utara atau timur agar kepadatan tidak hanya menumpuk di satu titik,” ujarnya.




