Liputan6.com, Jakarta - PBB melaporkan hasil investigasi gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi UNIFIL sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon. Dari hasil investigasi, insiden yang menimpa 3 TNI terjadi pada 2 kejadian berbeda yaitu pada 29 Maret dan 30 Maret 2026.
Juru bicara Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric mengatakan, pasukan perdamaian diduga terkena proyektil dari tank Merkava milik militer Israel. Temuan ini berdasarkan analisis lokasi dan fragmen proyektil yang ditemukan di pos pasukan perdamaian.
Advertisement
"Berdasarkan bukti yang tersedia, termasuk analisis lokasi dampak dan khususnya fragmen proyektil yang ditemukan di posisi PBB 7-1, proyektil tersebut adalah peluru utama tank kaliber 120 mm, yang ditembakkan oleh tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur, menuju Ett Taibe," kata Dujarric dilansir daru Pusat Informasi PBB di Indonesia, Kamis (9/4/2026).
Sementara peristiwa 30 Maret 2026, PBB menemukan TNI terkena ledakan akibat bom rakitan yang diduga dipasang Hizbullah. Dugaan ini muncul setelah mengidentifikasi sejumlah alat bukti seperti analisis lokasi ledakan, kendaraan yang terdampak, serta perangkat peledak rakitan (IED) kedua yang ditemukan di dekat lokasi kejadian.
"Investigasi menilai bahwa, mengingat lokasi kejadian, karakteristik ledakan, serta konteks saat ini, IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah," ujar dia.
Temuan awal ini telah disampaikan kepada Pemerintah Indonesia, Israel, dan Lebanon. Adapun personel Indonesia yang gugur pada 29 Maret adalah Kopral (Anm) Farizal Rhomadon, sementara Mayor (Anm) Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu (Anm) Muhammad Nur Ichwan gugur pada 30 Maret.
Saat ini, proses investigasi penuh oleh PBB masih berlangsung, termasuk prosedur yang diperlukan serta keterlibatan dengan pihak terkait untuk memahami konteks dan keadaan secara menyeluruh di tengah konflik Lebanon.
Dewan Penyelidikan akan dibentuk untuk kedua kasus tersebut, sesuai dengan prosedur yang berlaku di PBB.
"Kami kembali menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga para penjaga perdamaian yang gugur dan kepada Pemerintah Indonesia. Kami juga berharap seluruh pihak turut mendoakan pemulihan penuh bagi semua yang terluka dalam insiden ini maupun insiden lainnya," tutur Dujarric.
"Insiden-insiden ini tidak dapat diterima. Kami telah meminta kepada pihak-pihak terkait agar kasus-kasus ini diselidiki dan diproses secara hukum oleh otoritas nasional untuk membawa para pelaku ke pengadilan dan memastikan pertanggungjawaban pidana atas kejahatan terhadap penjaga perdamaian," sambung dia.




