Selama hampir sepuluh tahun terakhir, Siti Rochmatin rutin menjalani prosedur hemodialisis atau cuci darah. Setidaknya seribu kali mesin dialisis membantunya menyaring darah, menggantikan fungsi ginjal yang terus menurun. Prosedur dua kali sepekan itu kini menjadi bagian dari upayanya bertahan hidup, setelah penyakitnya bermula dari hipertensi yang tak disadari.
Di balik angka tersebut, tersimpan konsekuensi besar yang harus dihadapi pasien gagal ginjal, yakni kebutuhan pengobatan jangka panjang dengan biaya tinggi. Prosedur hemodialisa tidak hanya bersifat rutin, tetapi juga berlangsung seumur hidup.
“Dua kali seminggu rutin cuci darah, sudah kurang lebih sepuluh tahun berjalan. Awalnya cuma seperti lemas, terus bengkak, tidak dicek saat itu. Tiba-tiba darah tinggi sampai 160 dan tiba-tiba gagal ginjal,” kata Siti, Dikuip dari rilis, Senin (7/4).
Kondisi yang dialaminya bermula dari hipertensi yang tidak disadari. Gejala awal yang muncul tidak segera ditangani hingga akhirnya berkembang menjadi gagal ginjal yang mengharuskannya menjalani cuci darah secara berkala.
Siti mengaku sempat merasakan beban biaya saat masih menggunakan pembiayaan mandiri. Saat itu, satu kali prosedur cuci darah membutuhkan biaya ratusan ribu rupiah.
“Pernah dulu saat awal pakai biaya umum, sekitar 700 ribu kalau tidak salah. Sekarang kurang tahu berapa biayanya, karena semua sudah pakai JKN. Sekarang rasanya lebih ringan dibanding dulu karena kita tidak mengeluarkan biaya banyak. Tidak pernah juga ada biaya tambahan di sini, semua dijamin,” ujarnya.
Sejak menjadi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), seluruh biaya pengobatan yang dijalaninya ditanggung. Hal ini memungkinkan Siti tetap menjalani terapi rutin tanpa terbebani biaya yang besar.
“Mungkin tidak akan sampai di titik ini kalau tidak pakai JKN. Tidak mungkin saya cuci darah, sudah sepuluh tahun lamanya, satu minggu dua kali, mau keluar biaya berapa. Kalau tidak ada JKN sulit, kalau pakai umum dari mana biayanya. Saya bersyukur sekali ada Program JKN,” kata Siti.
Selain pembiayaan, ia juga menilai pelayanan tenaga kesehatan yang diterima selama menjalani pengobatan berjalan baik dan setara bagi seluruh pasien.
“Kalau dari tenaga kesehatannya, dari perawat hingga dokter semua pelayananya baik, dan dilayani sama. Mereka sudah seperti saudara dan keluarga sendiri, sampai karyawan semua sudah seperti keluarga,” ujarnya.
Dengan kondisi yang harus dijalani dalam jangka panjang, Siti berharap keberlanjutan Program JKN tetap terjaga agar pasien dengan penyakit kronis dapat terus mengakses layanan kesehatan.
“Semoga JKN dan BPJS Kesehatan selalu ada untuk kami dan terus semakin baik untuk ke depannya,” tutupnya.





