REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melepas tiga spesies serangga penyerbuk baru untuk memperkuat produktivitas sawit nasional. Langkah ini menandai upaya berbasis sains dalam menjaga keberlanjutan industri di tengah tantangan efisiensi dan produktivitas.
Tiga spesies yang diintroduksi berasal dari Tanzania, yakni Elaeidobius subvittatus, Elaeidobius kamerunicus, dan Elaeidobius plagiatus. Ketiganya dilepas di PPKS Unit Marihat, Simalungun, Sumatera Utara, Kamis (9/4/2026) sebagai bagian penguatan sistem penyerbukan alami.
- Asosiasi Nilai BPDP Berkontribusi Kembangkan SDM Sawit Nasional
- Pertamina NRE Garap Peluang Biometanol dari Limbah Sawit
- Mengenal Benwit, Bensin Alternatif dari Sawit Karya Peneliti ITS
Direktur Perbenihan Kementerian Pertanian Ebi Rulianti yang membacakan sambutan Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, inovasi ini melanjutkan sejarah penting sejak introduksi serangga penyerbuk pada 1982 yang terbukti meningkatkan produktivitas sawit. “Kita belajar dari sejarah bahwa inovasi kecil bisa membawa dampak besar,” kata Ebi.
Ia menjelaskan, penyerbukan alami oleh serangga menjadi faktor kunci dalam pembentukan buah sawit yang menentukan produksi minyak. Keberadaan serangga ini juga dinilai mampu menekan biaya budidaya, khususnya pada proses penyerbukan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}“Kita menandai langkah strategis dalam keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia. Keberadaan serangga ini sangat mampu menurunkan cost dalam produktivitas sawit,” kata Ebi.
Seluruh proses introduksi disebut telah melalui tahapan ilmiah dan pengujian ketat. “Mulai eksplorasi dari negara asal, kemudian pengujian yang komprehensif ini melibatkan Agen hayati juga kementerian dan Lembaga. Dari seluruh pengujian tersebut menunjukkan bahwa spesies yang diintroduksi memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Langkah yang kita ambil ini adalah kebijakan berbasis sains, terukur dan tetap menjujung tinggi prinsip kehati-hatian,” kata Ebi.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, pelepasan ini mencerminkan kesinambungan inovasi dalam industri sawit. “Ini bukan hanya soal serangga, tetapi tentang bagaimana kita menjaga masa depan industri sawit Indonesia,” kata Eddy.
Introduksi serangga ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, GAPKI, BPDP, Badan Karantina Indonesia, hingga asosiasi petani dan pelaku industri. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat ekosistem perkebunan sawit yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Ketiga spesies tersebut telah dinyatakan aman dan siap dikembangkan untuk mendukung sistem penyerbukan yang lebih optimal. Langkah ini juga membuka peluang peningkatan produktivitas tanpa menambah beban biaya produksi.




