Bakti Pramuka Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

mediaindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

KETAHANAN pangan bukan lagi sekadar isu sektoral, melainkan juga telah menjadi agenda strategis bangsa. Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, mulai perubahan iklim, gangguan rantai pasok, hingga tekanan geopolitik, kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri menjadi penentu kedaulatan, stabilitas, dan keberlanjutan pembangunan nasional. Negara akan kuat jika memiliki ketahanan pangan yang kukuh.

Dalam konteks tersebut, visi besar untuk mewujudkan kemandirian pangan sebagaimana menjadi arah kebijakan nasional dalam Astacita Presiden Jenderal (Purn) H Prabowo Subianto membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa. Kemandirian pangan tidak dapat dibangun hanya melalui kebijakan struktural di tingkat pusat, tetapi juga harus ditopang kekuatan sosial yang tumbuh dari masyarakat, termasuk melalui Gerakan Pramuka. Sejalan dengan arah tersebut, pada Februari 2026, Kementerian Pertanian mendorong Gerakan Pramuka menjadi kekuatan strategis dalam pembangunan pertanian nasional.

Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam agenda besar itu, tetapi harus tampil sebagai pelaku utama perubahan. Mereka harus bergerak, berpikir, dan berbuat untuk ikut berpartisipasi dalam memberikan solusi.

Baca juga : Perkuat Konsolidasi, Kwarcab Pramuka Kota Bandung Tetapkan Program Kerja Strategis 2026

 

PRAMUKA DAN KETAHANAN PANGAN

Sejumlah hasil penelitian menunjukkan Gerakan Pramuka memiliki kontribusi nyata dalam membangun kemandirian dan keterampilan generasi muda yang relevan dengan isu ketahanan pangan. Kajian yang diterbitkan Universitas Galuh dalam Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Pertanian (2022) menemukan anggota Saka Tarunabumi memiliki kemampuan teknis agrobisnis yang lebih baik serta berkontribusi langsung terhadap stabilitas pangan di tingkat desa melalui kelompok tani muda. Hal itu menunjukkan pendidikan nonformal berbasis kepramukaan mampu menjembatani generasi muda dengan praktik nyata di sektor pangan.

Baca juga : Mentan Gandeng Pramuka untuk Dorong Regenerasi Petani

 

Temuan lain dari Jurnal Sylva Lestari Universitas Lampung (2021/2022) menunjukkan pembinaan Saka Wanabakti efektif dalam meningkatkan kesadaran lingkungan sekaligus keterampilan konservasi hutan, termasuk teknik pembibitan dan pemeliharaan. Dalam perspektif yang lebih luas, upaya itu menjadi bagian penting dari sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Aktivitas kepramukaan membentuk karakter mandiri sekaligus kemampuan pemecahan masalah secara kolektif. Melalui sistem beregu, anggota Pramuka dilatih mengambil keputusan, beradaptasi, dan bekerja sama dalam menghadapi tantangan. Kemampuan itu menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya tangguh secara individu, tetapi juga mampu bekerja dalam sistem sosial yang kompleks.

Temuan-temuan tersebut memperlihatkan satu benang merah yang kuat, bahwa Pramuka bukan sekadar ruang aktivitas, melainkan ekosistem pembinaan yang mampu melahirkan generasi mandiri, produktif, dan solutif. Dari sinilah relevansi Gerakan Pramuka dalam menjawab tantangan ketahanan pangan menemukan pijakannya yang nyata dan teruji.

 

JAMBORE DAN IKHTIAR PRAMUKA MEMBANGUN KEMANDIRIAN

Berangkat dari fondasi tersebut, Jambore Nasional XII 2026 yang akan diselenggarakan pada 13–20 Agustus 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur tidak dimaknai sebagai sekadar pertemuan besar Pramuka Penggalang. Lebih dari itu, Jambore tersebut merupakan ikhtiar kolektif untuk memperkuat arah pembinaan generasi muda agar selaras dengan kebutuhan strategis bangsa, khususnya dalam mendukung agenda besar kemandirian dan swasembada pangan.

Dalam konteks kebijakan nasional, arah itu sejalan dengan visi pembangunan dalam Astacita Presiden yang menempatkan kemandirian bangsa sebagai prioritas utama, termasuk sektor pangan. Presiden mendorong terwujudnya swasembada pangan sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor serta memperkuat kecintaan terhadap produk dalam negeri.

Kemandirian tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan produksi, tetapi juga mencakup kemampuan distribusi, pengelolaan sumber daya, hingga penguatan ekosistem pangan yang berkelanjutan. Dalam kerangka itu, pembangunan sumber daya manusia menjadi kunci utama dan generasi muda menjadi aktor strategis menuju keberhasilan jangka panjang.

Jambore Nasional XII kemudian ditempatkan sebagai ruang konkret untuk menerjemahkan visi besar tersebut ke dalam praktik pembinaan generasi muda. Ia menjadi wadah tempat nilai-nilai kebangsaan, keterampilan hidup, dan kesadaran sosial dipadukan dalam satu proses pembelajaran yang utuh dan kontekstual.

Lebih dari sekadar kegiatan, Jambore berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran sosial. Di dalamnya, generasi muda tidak hanya menerima materi, tetapi mengalami secara langsung proses belajar yang membentuk cara berpikir, sikap, dan keterampilan. Mereka belajar untuk beradaptasi, bekerja sama, mengambil keputusan, serta mengelola sumber daya dalam situasi nyata.

Tema yang diangkat, Berkreasi, berinovasi, terampil dan mandiri untuk mendukung swasembada pangan, menjadi refleksi dari arah pembinaan yang ingin dicapai. Kreativitas dan inovasi tidak lagi ditempatkan sebagai nilai tambahan, tetapi sebagai kompetensi utama. Generasi muda didorong untuk melihat tantangan sebagai peluang, serta menghadirkan solusi yang relevan dan aplikatif.

 

PEMBINAAN DALAM JAMBORE

Dalam praktiknya, berbagai kegiatan dalam Jambore diarahkan untuk menumbuhkan cara berpikir produktif dan solutif. Peserta tidak hanya diajak memahami konsep, tetapi juga mempraktikkan langsung keterampilan yang berkaitan dengan pengelolaan pangan, pemanfaatan sumber daya lokal, serta pengembangan inovasi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

Penguatan life skills menjadi inti keseluruhan proses itu. Kemandirian yang dibangun tidak berhenti pada kemampuan bertahan hidup, tetapi berkembang menjadi kemampuan mencipta, mengelola, dan memberi nilai tambah. Itu mencakup kemampuan teknis, manajerial, hingga kemampuan sosial yang diperlukan dalam membangun kemandirian secara berkelanjutan.

Pembinaan dalam Jambore juga diarahkan untuk menumbuhkan pola pikir kewirausahaan pada generasi muda. Kemandirian pangan tidak akan tercapai tanpa keberanian untuk mencipta, mengelola risiko, dan membangun nilai ekonomi dari sumber daya yang tersedia. Dalam konteks itu, Pramuka didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen dan inovator di bidang pangan yang mampu mengembangkan potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi berkelanjutan. Upaya itu juga diperkuat melalui kerja sama Gerakan Pramuka dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) guna mendukung ketahanan pangan nasional.

Jambore itu juga diarahkan untuk membangun kesadaran kolektif bahwa ketahanan pangan merupakan bagian integral dari kedaulatan bangsa. Generasi muda perlu memahami bahwa pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan juga faktor strategis yang menentukan stabilitas sosial, ekonomi, dan bahkan pertahanan nasional.

Dengan demikian, Jambore Nasional XII tidak hanya menjadi kegiatan kepramukaan, tetapi menjadi bagian dari gerakan pembangunan nasional yang berorientasi pada pembentukan generasi mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab.

 

MENUJU KEMANDIRIAN PANGAN DARI AKAR RUMPUT

Jambore Nasional XII diproyeksikan tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi menjadi titik awal lahirnya gerakan yang lebih luas dan berkelanjutan. Harapannya, setiap peserta kembali ke daerah mereka bukan hanya dengan kenangan, melainkan juga membawa gagasan, keterampilan, dan semangat perubahan yang dapat diimplementasikan secara nyata.

Pendekatan yang dibangun ialah pendekatan akar rumput, dengan perubahan dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat. Pendekatan itu sejalan dengan semangat Astacita Presiden Jenderal (Purn) H Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya membangun dari desa dan memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat paling bawah.

Ketahanan pangan tidak akan kukuh jika hanya bertumpu pada kebijakan di tingkat pusat, tetapi harus tumbuh dari kesadaran, partisipasi, dan inisiatif masyarakat di tingkat lokal. Di sinilah peran generasi muda menjadi sangat penting sebagai agen perubahan yang mampu menggerakkan lingkungan sekitar mereka.

Dari satu regu ke regu lain, dari satu gugus depan ke komunitas yang lebih luas, akan tumbuh inisiatif-inisiatif kecil yang jika dirajut secara kolektif akan menjadi kekuatan besar. Gerakan itu bersifat organik, tumbuh dari bawah, dan berkembang melalui interaksi sosial yang berkelanjutan.

Kontribusi tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk nyata, seperti pemanfaatan lahan terbatas untuk budi daya pangan, pengembangan produk olahan berbasis potensi lokal, hingga edukasi masyarakat tentang pola konsumsi yang sehat dan berkelanjutan. Dalam skala mikro, langkah-langkah itu mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam skala nasional, ia memiliki dampak yang signifikan. Hal itu sekaligus menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan impor dan menumbuhkan kecintaan terhadap produk dalam negeri.

Di sinilah Gerakan Pramuka menunjukkan kekuatannya sebagai gerakan sosial berbasis komunitas. Dengan jaringan yang luas hingga ke tingkat desa dan sekolah, serta semangat gotong royong yang kuat, Pramuka memiliki kapasitas untuk menggerakkan perubahan secara masif dan berkelanjutan.

Lebih dari itu, gerakan itu juga berpotensi membentuk budaya baru di kalangan generasi muda, yaitu budaya produktif, mandiri, dan berbasis solusi. Ketahanan pangan tidak lagi dipandang sebagai isu yang jauh, tetapi menjadi bagian dari kesadaran sehari-hari. Ketika generasi muda terbiasa menanam, mengolah, dan memanfaatkan pangan secara bijak, pada saat itulah fondasi kemandirian bangsa sedang dibangun secara nyata.

Namun, keberhasilan upaya itu sangat bergantung pada sinergi yang dibangun. Kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci utama. Ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab negara, melainkan juga tanggung jawab kolektif sebagai bangsa.

Jambore Nasional XII 2026 harus dipandang sebagai bagian dari langkah besar menuju tujuan tersebut, sebuah titik tolak yang memperkuat kesadaran bahwa kemandirian bangsa hanya dapat terwujud jika dimulai dari kemandirian individu dan komunitasnya.

Pada akhirnya, masa depan pangan Indonesia tidak hanya ditentukan kebijakan, tetapi oleh tindakan nyata yang tumbuh dari masyarakat. Ketika generasi muda mampu berpikir kreatif, bertindak mandiri, dan bekerja bersama, kemandirian pangan bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan juga sebuah keniscayaan.

Dari Jambore, kita menumbuhkan kesadaran. Dari Pramuka, kita membangun kemandirian. Dari gerakan akar rumput yang terus tumbuh, kita meneguhkan masa depan pangan Indonesia sebagai bangsa yang tangguh, berdikari, dan maju.

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Syok Berat! Wanita di Malang Tak Sadar Nikahi Sesama Jenis, Rahasia Baru Terbongkar Saat Malam Pertama
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Iran Lawan AS-Israel dan Fakta di Balik Penutupan Al-Aqsa yang Tak Banyak Dibahas Dunia
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pimpinan Komisi III DPR Setuju Usulan Larang Vape: Merusak Generasi Bangsa
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Ada Program Listrifikasi 100 GW, Prabowo akan Pensiunkan PLTD
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Belitung perkuat perlindungan dan pelestarian penyu 
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.