Lonjakan Biaya Logistik Tekan Industri Berbasis Ekspor

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Industri manufaktur berbasis ekspor menghadapi tekanan biaya logistik akibat kenaikan harga minyak global yang sempat berlangsung cukup lama imbas konflik di Timur Tengah. Di tengah gelojak geopolitik, pemerintah diminta melindungi dan mendukung iklim usaha.

Ketua Umum Indonesian Rubber Glove Manufacturers Association (IRGMA), Rudy Ramadhan, mengatakan, industri sarung tangan karet nasional saat ini menghadapi tekanan biaya logistik seiring kenaikan harga minyak dunia yang mendorong ongkos transportasi dan tarif peti kemas.

Kondisi ini berimbas pada biaya produksi, terutama bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor di tengah ketidakpastian rantai pasok global. “Untuk ekspor, dampaknya biaya transportasi naik. Peti kemas untuk mengangkut produk ikut naik,” kata Rudy saat dihubungi, Kamis (9/4/2026).

Selain ongkos transportasi, biaya yang memberatkan produk-produk dalam negeri berbasis pasar ekspor antara lain premi asuransi, ongkos pengiriman (freight), hingga potensi demurrage (denda kontainer melebihi batas waktu) dan biaya penyimpanan tambahan.

Meski sudah terjadi kenaikan dari sisi biaya logistik, pelaku industri belum bisa memperkirakan berapa kerugian atau beban yang ditanggung dari lonjakan biaya pengiriman tersebut.

Di sisi lain, menurut Rudy, bahan baku industri sarung tangan saat ini belum menghadapi hambatan atau masalah karena dampak dari konflik Timur Tengah. Industri sarung tangan masih mengandalkan pasokan karet alam domestik, terutama dari Sumatera Selatan.

Baca JugaHarga Bahan Baku Melonjak, Industri Sulit Menahan Kenaikan Harga

Selain itu, sebagian bahan baku juga diimpor dari negara produsen di luar kawasan berkonflik, seperti Vietnam dan Thailand, meski tetap menghadapi ketidakpastian biaya pengiriman akibat dinamika global.

“Kalau sarung tangan untuk bahan bakunya tidak ada masalah. Untuk impor (bahan baku) disuplai dari Vietnam dan Thailand, hanya saja harganya yang fluktuatif,” ujar Rudy.

Dalam situasi tersebut, pemanfaatan bahan baku dalam negeri perlu dioptimalkan, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Saat ini, kebutuhan karet untuk industri sarung tangan diperkirakan mencapai 30.000–40.000 ton per tahun. Namun, kontribusi terhadap total produksi karet nasional masih sekitar 5 persen.

Di tengah situasi geopolitik, untuk menjaga daya saing industri, Rudy mendorong konsistensi kebijakan dan regulasi yang mendukung iklim usaha. Kemudahan impor bahan baku menjadi penting, terutama untuk menjaga kesinambungan produksi.

Di sisi lain, sejumlah komoditas seperti bahan baku plastik masih menghadapi kendala kuota dan bea masuk antidumping (BMAD), yang dinilai menjadi tantangan tambahan bagi industri.

“Pemerintah dalam membuat regulasi harus mendukung industri. Konsisten saja, jangan mengganggu industri. Impor untuk bahan baku industri dipermudah,” ujarnya.

Diversifikasi bahan baku

Sementara itu, pemerintah mengklaim ketersediaan bahan baku bagi industri tetap aman di tengah dinamika pasokan global. “Untuk bahan baku industri dan rumah tangga, tidak akan ada masalah,” ujar Menteri Agus Gumiwang Kartasasmita, seusai peluncuran buku "Ginandjar Kartasasmita: Pengabdian dari Masa ke Masa: Perjalanan, Pergulatan dan Pemikiran" pada Kamis, (9/4/2026), di Menara Kompas, Jakarta.

Pemerintah menegaskan, saat ini upaya pengamanan pasokan berbagai jenis bahan baku juga terus berjalan secara paralel. Terkait harga, ia mengakui memang ada koreksi di tingkat produsen akibat kenaikan biaya bahan baku global. Namun, pasokan diklaim masih aman.

Agus pun menepis kekhawatiran terkait keterbatasan stok plastik yang disebut hanya mencukupi hingga Mei 2026. Menurut data Indeks Kepercayaan Industri (IKI), subsektor industri kemasan pada Maret 2026 mencatatkan ekspansi tinggi, yang mencerminkan produksi masih kuat.

Masyarakat dan industri hilir diminta tidak perlu panik karena produk plastik dipastikan masih tersedia di pasar. Pemerintah akan mengoptimalkan berbagai kanal pasokan alternatif.

Agus menjelaskan, gangguan jalur distribusi dan produksi minyak bumi global memang telah berdampak pada sektor hulu petrokimia. Kondisi ini memicu kenaikan biaya produksi di sejumlah industri yang mengandalkan nafta, termasuk plastik.

Dalam industri petrokimia, nafta menjadi bahan baku penting karena digunakan untuk membuat berbagai macam bahan kimia, seperti butadiena (untuk sarung tangan, ban kendaraan, karet sintetis). Lalu, etilena untuk menghasilkan polietilena (botol plastik, kontainer, dan produk plastik lainnya). Ada pula propilena (suku cadang otomotif, mainan, kemasan, dan lain-lain).

Meski demikian, pemerintah bersama pelaku industri telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan produksi. Salah satunya melalui diversifikasi sumber bahan baku dengan menjajaki pasokan nafta dari luar Timur Tengah guna mengurangi ketergantungan terhadap kawasan tersebut.

”Industri sedang aktif menjajaki pasokan nafta dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan wilayah,” ujar Agus.

Industri juga mengoptimalkan penggunaan liquefied petroleum gas (LPG) sebagai bahan baku penyangga dalam proses produksi. Upaya lainnya, pemerintah mendorong peningkatan pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai alternatif atau substitusi untuk menjaga stabilitas pasokan di pasar domestik.

Di sisi lain, industri petrokimia hulu seperti PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) berupaya menjaga stabilitas pasokan bahan baku bagi industri hilir petrokimia di tengah tekanan rantai pasok global.

Direktur Management Support PT Lotte Chemical Indonesia Cho Jin-woo dalam keterangan pers mengatakan, perusahaan memprioritaskan alokasi produk dan kapasitas produksi yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

LCI akan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk meminimalkan dampak gangguan terhadap pelanggan, sekaligus mendukung stabilitas sektor manufaktur nasional.

”Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, prioritas utama kami adalah menjaga keberlangsungan pasokan bagi industri dalam negeri,” ujar Cho.

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, LCI juga aktif mencari sumber alternatif pasokan bahan baku dari luar kawasan terdampak. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kesinambungan produksi, sekaligus memenuhi kebutuhan pelanggan di dalam negeri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Insanul Fahmi Jalani Pemeriksaan Kasus Dugaan Perzinaan di Polda Metro Jaya
• 5 menit lalugrid.id
thumb
BEI Sebut Emiten dengan HSC Bakal Lakukan Aksi Korporasi
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Kuasa Hukum Roy Suryo Sebut Rismon Celaka Dua Kali: Seperti Robot yang Dikontrol dari Solo
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Menaker Bidik Program Magang Luar Negeri Tembus Lebih dari 20 Ribu Peserta di 2026
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Menteri UMKM: Indonesia Sudah Amankan Pasokan Nafta dari India, Afrika, dan AS
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.