Iran mengklaim bahwa pihaknya telah menang dalam perang melawan Israel dan Amerika Serikat. Hal ini menyusul gencatan senjata selama dua minggu antara Teheran, Tel Aviv dan Washington.
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei mengklaim kemenangan final dalam perang melawan Israel dan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak memulai perang, namun akan mempertahankan haknya dan siap merespons jika serangan kembali terjadi.
Baca Juga: Soroti Kasus Netanyahu, Iran Waspada Serangan Amerika Serikat Saat Negosiasi di Pakistan
Khamenei sendiri menyoroti negosiasi yang akan berlangsung di Pakistan, Menurutnya, Iran siap menempuh jalur diplomasi namun ia memperingatkan bahwa pihaknya tetap dalam posisi siaga menyusul kemungkinan serangan dari Tel Aviv dan Washington.
Iran dalam negosiasi itu akan menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang serta pertanggungjawaban atas korban jiwa yang disebabkan oleh serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan tidak akan membiarkan pihak yang menyerang tanpa hukuman.
“Kami tentu tidak akan membiarkan para agresor kriminal yang menyerang negara kami lolos dari hukuman. Kami akan menuntut ganti rugi atas semua kerusakan, serta darah para martir dan yang terluka,” tegas Khamenei.
Terkait Selat Hormuz, Khamenei menyebut jalur tersebut akan memasuki “fase baru”, tanpa menjelaskan detail lebih lanjut. Selat ini menjadi titik krusial dalam negosiasi karena perannya sebagai jalur utama energi global.
Iran sendiri saat ini membuka kembali sebagian akses pelayaran di Selat Hormuz. Namun, muncul wacana bahwa mereka akan mengenakan tarif bagi kapal yang melintas sebagai bagian dari upaya pendanaan rekonstruksi.
Sebelumnya, Pakistan mengumumkan bahwa negosiasi damai akan berlanjut pekan ini usai tercapainya gencatan senjata selama dua minggu dari Iran dan Amerika Serikat. Proposal kedua negara menjadi perhatian karena akan menjadi penentuan tercapainya kedamaian di Timur Tengah.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa kedua negara telah menyepakati gencatan senjata yang berlaku segera dalam seluruh wilayah konflik, termasuk di Lebanon. Ia juga mengonfirmasi bahwa pihaknya akan menjadi lokasi perundingan lanjutan antara kedua pihak.
Iran dan Amerika Serikat diundang untuk hadir dalam pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung pada 10 April 2026. Negosiasi pada hari itu dilakukan guna mencapai kesepakatan final yang menyelesaikan seluruh perselisihan dari Washington dan Teheran.
Namun gencatan senjata itu hampir saja batal karena aksi militer dari Israel. Diketahui, Israel melancarkan serangan paling intens ke Lebanon. Serangan tersebut menewaskan ratusan orang dan terjadi di tengah gencatan senjata dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurut laporan, sedikitnya lima ledakan besar juga mengguncang wilayah dari dari Beirut. Lebanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka. Serangan ini menjadi serangan yang paling mematikan sejak konflik dimulai pada awal Maret.
Iran beranggapan bahwa kesepakatan gencatan senjata mencakup Lebanon. Sementara Amerika Serikat dan Israel menegaskan sebaliknya. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut perbedaan ini sebagai kesalahpahaman dalam proses negosiasi.
Baca Juga: Iran Yakin Netanyahu Akan Segera Dipenjara di Israel
Vance menyatakan bahwa negosiator dari negara tersebut mengira gencatan senjata juga mencakup Lebanon. Padahal menurutnya hal tersebut tidaklah demikian. Ia menyebut hal ini sebagai kesalahpahaman yang wajar terjadi dalam proses negosiasi yang kompleks antara Iran dan Amerika Serikat.





