Jember, ERANASIONAL.COM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur bersama FEB Universitas Jember menggelar Road to East Java Economic (EJAVEC) Forum 2026. Forum strategis ini merumuskan arah kebijakan ekonomi daerah yang unggul, inklusif, dan berkelanjutan, Kamis (9/4).
Kegiatan ini menjadi wadah diseminasi riset serta pertukaran gagasan antara regulator, akademisi, hingga praktisi. BI tetap memposisikan Jawa Timur sebagai motor penggerak ekonomi nasional yang memerlukan kebijakan berbasis data kuat.
“Ketidakpastian global tidak bisa kita hindari, namun kita tetap dapat mengelolanya secara tepat,” ujar Deputi Direktur BI Jawa Timur, Agung Budi Laksono. Ia menegaskan bahwa sinergi sektor pertanian dan investasi menjadi kunci utama kemajuan wilayah Jember.
EJAVEC membangun jembatan antara riset akademik dan kebijakan publik agar solusi di lapangan tepat sasaran. Melalui forum ini, para ahli menyusun jembatan riset agar solusi kebijakan publik benar-benar akurat bagi masyarakat.
Dekan FEB UNEJ, Prof. Isti Fadah, menekankan pentingnya transformasi menuju pertanian berbasis teknologi modern. Agroindustri masa kini harus mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif guna menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan.
“Kita harus bergerak menuju agribisnis berbasis data untuk menjaga keberlanjutan ekonomi daerah,” jelas Prof. Isti. Namun, sektor ini memerlukan dukungan investasi baru agar potensi ekonomi lokal dapat berkembang secara maksimal.
Keterlibatan akademisi dalam Call for Paper EJAVEC 2026 akan melahirkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif bagi pemerintah. Forum ilmiah yang memasuki tahun ke-13 ini terus konsisten memberikan kontribusi nyata bagi perumusan kebijakan ekonomi nasional.
“EJAVEC menjadi ruang untuk melahirkan rekomendasi kebijakan yang konkret bagi pemerintah daerah,” ungkap Ketua ISEI Surabaya, Prof. Soni Harsono. Hal ini membuktikan komitmen bersama dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui potensi unggulan Jawa Timur.





