Wamenkes Cek Transplantasi Hati di RSUP Fatmawati, Donor dari Anak Sendiri

kumparan.com
2 hari lalu
Cover Berita

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono meninjau hasil pelaksanaan transplantasi hati di Rumah Sakit Umum Fatmawati, Jumat (10/4). Dante melihat kondisi pasien sirosis hati yang baru saja menjalani transplantasi dengan donor dari anak kandungnya.

Dante menjelaskan, transplantasi organ menjadi langkah krusial dalam penanganan sejumlah penyakit kronis yang sudah tidak bisa ditangani dengan terapi lain.

“Karena beberapa penyakit yang ada itu terapi definitifnya atau terapi terakhirnya atau terapi satu-satunya untuk menyelamatkan hidupnya adalah dengan melakukan transplantasi, seperti transplantasi ginjal, transplantasi kornea, transplantasi hepar atau hati yang kita lakukan,” ujar Dante dalam konferensi pers di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan.

Ia mengatakan, transplantasi hati yang dilakukan di RS Fatmawati merupakan kasus ketiga di rumah sakit pemerintah, setelah sebelumnya dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Sardjito.

“Ini memang bukan yang pertama di Indonesia, sudah ada dua rumah sakit milik pemerintah lainnya, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Sardjito yang sudah melakukan proses transplantasi hepar atau transplantasi hati. Dan Fatmawati ini sebagai kasus yang ketiga,” ungkapnya.

Harapan Terakhir Pasien Sirosis

Menurut Dante, pasien yang menjalani transplantasi umumnya merupakan penderita penyakit hati kronis, seperti hepatitis atau kerusakan hati akibat alkohol yang berkembang menjadi sirosis.

“Biasanya yang ditransplantasi adalah pasien-pasien yang mengalami penyakit hati kronik, misalnya infeksi hepatitis, kemudian penyakit hati karena alkohol, yang akhirnya menjadi sirosis,” jelas Dante.

Ia menjelaskan, sirosis merupakan kondisi ketika hati mengeras dan tidak lagi mampu menjalankan fungsinya, termasuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh.

“Sirosis itu hatinya mengeras, hatinya mengeras dan kita tahu bahwa fungsi hati itu untuk detoksifikasi atau untuk mengeluarkan racun-racun yang ada di dalam tubuh,” katanya.

“Kalau racun-racun ini tidak dikeluarkan dari dalam tubuh dan tidak bisa dikeluarkan maka akan berakibat fatal bagi pasien,” lanjut dia.

Bahaya Sirosis

Bahkan, ia menyebut, sirosis hati menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

“Sirosis hepatis atau sirosis hati ini menempati urutan ketiga kematian terbesar di Indonesia dan kebanyakan karena infeksi hepatitis B,” jelas Dante.

Dalam kasus yang ditinjaunya, pasien pria berusia 52 tahun menjalani transplantasi hati dengan donor dari anaknya sendiri yang berusia 26 tahun. Dante menyebut kondisi pasien saat ini stabil dan masih dalam observasi intensif.

“Pasiennya sudah dalam sedang dalam kondisi stabil, pasien berusia 52 tahun, donornya adalah anaknya sendiri yang berusia 26 tahun,” tuturnya.

Transplantasi Sukses

Ia juga sempat berinteraksi langsung dengan sang donor, yang kondisinya dinilai baik pascaoperasi.

“Tadi saya mengunjungi donor, sudah sadar donornya, bahkan bagus dan bisa berkomunikasi dengan baik,” kata Dante.

Sementara pasien penerima transplantasi masih dirawat di ruang ICU untuk pemantauan lebih lanjut.

“Dan ayahnya tadi masih juga dalam kondisi sadar, masih di ruang ICU untuk observasi,” katanya.

Dante menegaskan, prosedur transplantasi dilakukan dengan teknik laparoskopi sehingga sayatan operasi relatif kecil.

“Dengan tekniknya juga teknik laparoskopi pembedahannya kecil, hanya tidak terlalu besar hanya besarnya waktu dilakukan pengeluaran livernya saja, ditransplan ke ayahnya,” jelas dia.

Ia juga memastikan donor hidup tidak akan mengalami gangguan kesehatan serius, selama kondisi hatinya sehat sebelum operasi.

“Kalau hatinya sehat pada donornya, ini enggak ada masalah untuk donornya. Bisa tumbuh, bisa tumbuh lagi menjadi bagian yang tadi sudah dipotong untuk transplantasi,” ujar Dante.

Dante menjelaskan, hati memiliki kemampuan regenerasi sehingga bagian yang diambil dapat tumbuh kembali.

Biaya Ditanggung BPJS

Di sisi lain, Dante menekankan biaya transplantasi hati yang mencapai ratusan juta rupiah tersebut sudah ditanggung oleh negara melalui BPJS Kesehatan.

“Sekitar Rp 600 juta, 600 juta, itu dicover seluruhnya oleh BPJS,” ucap Dante.

Adapun transplantasi hati di RS Fatmawati sendiri dilakukan bekerja sama dengan Seoul National University Hospital di bawah supervisi Profesor Kwang Woong Lee.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Sebut Ego Bangsa Indonesia Terlalu Gede: Begitu Jadi Pemimpin, Program Sebelumnya Enggak Dilanjut
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Dampak Sering Mengonsumsi Seblak bagi Kesehatan Tubuh
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Borneo FC Samarinda Pesta Gol 5-1 atas PSBS Biak dan Tempel Ketat Persib Bandung di Puncak Klasemen
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Dapur SPPG Tak Punya IPAL, Kepala DLH Wajo Ajak Pengelola MBG Berdiskusi
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Gunung Merapi Keluarkan 3 Kali Awan Panas Guguran Pagi Ini
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.