Gencatan Senjata AS–Iran Tak Sesederhana yang Terlihat : Benarkah ‘Tangan Hitam’ PKT Sebagai Variabel  Utamanya?

erabaru.net
18 jam lalu
Cover Berita

Saat ini, Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu. Namun, berbagai analisis menilai bahwa “dalang di balik layar” rezim Iran, yaitu Partai Komunis Tiongkok, tidak akan berhenti begitu saja, sehingga masih banyak ketidakpastian ke depan.

EtIndonesia. Pada 7 April malam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa persetujuan gencatan senjata bertujuan untuk menukar pembukaan Selat Hormuz oleh Iran, sekaligus memberi waktu bagi kedua pihak untuk bernegosiasi.

Namun, setelah Iran mengajukan rencana sepuluh poin, Trump menyebut proposal tersebut mengandung unsur penipuan.

Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya Pertahanan dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Su Tzu-yun, menyatakan bahwa gejolak jangka pendek di Selat Hormuz memang berdampak pada politik dan ekonomi global, namun dalam jangka panjang justru bisa menguntungkan, karena Iran selama ini dianggap sebagai salah satu sumber utama ketidakstabilan global.

Perlu dicatat, ada laporan yang menyebutkan bahwa PKT melalui Pakistan memberi tekanan kepada Iran agar membuka Selat Hormuz.

Pengamat politik yang berbasis di AS, Tang Jingyuan, mengatakan kepada media bahwa di satu sisi PKT menginginkan gencatan senjata karena kapal dagang yang melewati Selat Hormuz sebagian besar berasal dari Tiongkok. Jika selat tersebut ditutup, dampaknya akan besar bagi kepentingan PKT. Namun di sisi lain, PKT juga ingin rezim Iran tetap bertahan agar dapat “mengalihkan perhatian” Amerika Serikat. Oleh karena itu, posisi PKT dalam isu Iran menjadi dilematis.

Menariknya, meskipun PKT terus mengusung slogan “menjaga perdamaian” dan menyerukan gencatan senjata serta percepatan perundingan, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa PKT diam-diam memberikan dukungan militer kepada Iran.

Sebagai contoh, media Barat seperti The Daily Telegraph melaporkan bahwa komponen drone dari Tiongkok serta bahan kimia penting untuk pembuatan rudal mengalir ke Iran melalui jalur tidak resmi untuk menggantikan kerugian perang.

Laporan tersebut mengutip pendapat para ahli yang menyatakan bahwa tingkat keberanian PKT dalam hal ini melampaui perkiraan dunia luar.

Su Tzu-yun juga menyebutkan bahwa berbagai informasi menunjukkan otoritas PKT diam-diam mendukung Iran, yang menjadi salah satu akar ketidakstabilan di Timur Tengah.

Sementara itu, analis militer Mark menyatakan bahwa selama bertahun-tahun PKT telah memberikan dukungan kepada Iran, termasuk bantuan ekonomi, teknologi drone, semikonduktor, serta bahan untuk produksi rudal. Ia menambahkan bahwa kerugian besar di jajaran pimpinan Iran baru-baru ini memberikan dampak signifikan bagi PKT.

Selain itu, dengan bukti-bukti dukungan PKT terhadap Iran yang kini disebut telah dikuasai oleh pihak AS, Trump kemungkinan akan memberikan tekanan dalam negosiasi dengan Xi Jinping di masa depan, termasuk melalui sanksi tambahan terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok—sesuatu yang sangat dikhawatirkan oleh PKT. (Hui)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cuaca Ekstrem di Bandung Rusak Rumah di 5 Kecamatan
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BPK dan Pertaruhan Pemberantasan Korupsi Pasca-Putusan MK
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Resor Milik China di Berau Disetop Pemerintah, Ini Gara-garanya
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kejagung Abaikan Putusan MK, Tetap Gunakan BPKP Hitung Kerugian Negara
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Nutrisi Penting Dipenuhi Selama Traveling
• 32 menit lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.