Dari Panggung ke Pinggir Jalan: Sunyi di Balik Senyum Pak Tarno

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Di sebuah sudut jalan di Warakas, Jakarta Utara yang ramai, di antara riuh suara kendaraan dan padatnya pemukiman penduduk, seorang pria paruh baya berdiri dengan dagangan sederhana di tangannya. Mainan anak-anak--warna-warni, ringan, dan murah--menjadi pengganti panggung megah yang dulu pernah ia miliki sebagai pesulap. Ia adalah Pak Tarno.

Dulu, namanya dikenal sebagai sosok yang mampu membuat orang tertawa sekaligus terpukau. Dengan suara lantang dan khas, ia mengajak penonton masuk ke dunia sulap penuh kejutan. Setiap gerakan tangannya seperti menyimpan rahasia, setiap ucapannya membawa tawa. Ia bukan sekadar pesulap, ia adalah hiburan itu sendiri.

Namun waktu, seperti sulap yang kehilangan triknya, perlahan mengubah segalanya. Kini, suara lantang itu nyaris tak terdengar lagi.

Setelah stroke menyerangnya pertama kali pada 2018, kata-kata yang dulu mengalir deras kini tersendat. Bibirnya bergetar pelan setiap kali mencoba berbicara, seolah setiap kata harus diperjuangkan. Sorot matanya masih menyimpan semangat yang sama, tetapi tubuhnya tak lagi mampu mengikuti irama jiwa yang ingin terus tampil.

Pak Tarno yang kini berusia 75 tahun, didampingi istri, Lisa Karlina, menceritakan perjuangannya dalam menyambung hidup di tengah keterbatasan. Meski belum pulih total, ia sudah mulai bisa beraktivitas perlahan. Kondisi sang suami kini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

"Alhamdulillah, sudah ada perkembangan, peningkatan, perbaikan, kemajuan," ujar Lisa.

Di rumah kontrakan kecil yang ia tinggali bersama sang istri, hari-hari berjalan dengan sederhana—bahkan sering kali berat. Dinding rumah itu mungkin tak luas, tetapi di sanalah tersimpan sisa-sisa kejayaan, kenangan akan tepuk tangan, lampu panggung, dan sorakan penonton yang dulu tak pernah absen. Lisa menyebut Pak Tarno kini sudah bisa berjalan, meski masih harus dibantu dengan tongkat.

"Jalan masih pelan, cuma sekarang sudah agak peningkatan, jalannya sudah lancar," jelas Lisa. Pak Tarno kini mengaku rajin mengonsumsi ramuan tradisional untuk mempercepat pemulihannya.

"Jalan mah bisa, pelan. Minum jamu, sereh, salam sama jahe direbus," sambung Pak Tarno.

Beban Hidup Pak Tarno Bukan Hanya Kesehatan

Masalah datang dari arah yang tak disangka. Mobil atas namanya—yang dulu mungkin menjadi bagian dari mobilitasnya sebagai entertainer—digadaikan oleh mantan sopirnya ke leasing. Tanpa sepengetahuan Pak Tarno, tanggung jawab itu kini jatuh ke pundaknya. Tagihan demi tagihan datang, seolah mengetuk pintu yang sudah rapuh. Ia bukan lagi dikejar jadwal syuting. Ia kini dikejar utang.

Di hadapan kami, Pak Tarno mencoba melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menjelaskan. Ia mengenakan kembali kostum kebanggaannya—pakaian yang dulu menjadi simbol kejayaannya di layar kaca.

Baju itu mungkin sudah tak lagi secerah dulu. Namun saat ia memakainya, ada harapan yang menyala pelan. Seolah ia ingin berkata tanpa banyak kata: “Apakah kalian masih ingat saya?”

Lisa mengungkap kondisi bicara Pak Tarno bergantung pada suasana hatinya. "Masih kadang-kadang nggak (lancar), kadang-kadang jelas, kadang-kadang nggak. Kalau pikirannya ruwet, pasti omongnya susah," ungkap Lisa.

Pak Tarno menambahkan, suaranya akan lebih stabil jika ia sedang dalam suasana bekerja. "Omongnya lebih mendingan, kalau ada acara, mendingan," tutur pemilik nama asli Sutarno yang memilih pengobatan alternatif ketimbang rutin ke rumah sakit. Ia mengaku trauma dengan jarum saat menjalani terapi akupunktur.

Pak Tarno Masih Aktif Berjualan

Meski kondisi fisiknya belum pulih, semangat Pak Tarno tidak luntur. Ia masih aktif berjualan mainan setiap hari Senin hingga Jumat di kawasan Kota Tua atau berkeliling hingga ke Kelurahan Kebon Bawang. Untuk membawa barang dagangannya, Pak Tarno menggunakan kursi roda sebagai wadah, sementara dirinya berjalan menggunakan tongkat.

"Di Kota Tua saja kami jualan saja. Siangnya foto, malamnya pindah pasar malam sulap," sambung Pak Tarno.

Pendapatan dari berjualan mainan ini jauh dari kata cukup. Pak Tarno mengakui, penghasilan sangat minim apabila hanya mengandalkan hasil penjualan barang. "Kalau dapat, asli dari dagangan doang itu kecil, pernah enggak dapat. Dapat Rp 2.000 doang," ungkap Pak Tarno sedih.

Ia pun tak kuasa menahan air mata saat menceritakan kebaikan hati orang-orang yang sering memberi uang lebih.

"Kadang kalau ada yang banyak ngasih itu, 'Bu, ambil aja kembaliannya ya, untuk Ibu sama Bapak.' 'Oh makasih banyak Bu, semoga berkah ya Bu.' 'Iya Bu, biar Bapak cepat sembuh ya Bu,'" kenang Pak Tarno sambil menangis.

Meski kesulitan secara ekonomi, Pak Tarno menegaskan bahwa ia enggan meminta-minta atau mengemis. Dan mungkin, di tengah segala keterbatasannya hari ini, yang ia harapkan bukanlah kembali ke puncak. Cukup untuk diingat. Cukup untuk tidak dilupakan.

"Emang mendingan nggak minta-minta. Mendingan jualan begini saja," tutupnya pelan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kisah Berbelok-belok Ricky Nelson sebelum Menjadi Pelatih Sepak Bola: Gagal Jadi Pemain Bola, Pelatih Futsal, dan Sekolah Pendeta
• 14 jam lalubola.com
thumb
BEI Takkan Sanksi 9 Emiten yang Kepemilikan Sahamnya Dikuasai Sedikit Investor
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Anggota Komnas HAM Dorong Menko Kumham Imipas Yusril Bentuk TGPF Kasus Andrie Yunus
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Spesifikasi Motor Listrik Trail dan Skuter SPPG yang Dipesan BGN
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
60 Persen ASN Bandung WFH Setiap Jumat, Begini Dampaknya ke Lalu Lintas
• 14 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.