FAJAR, YOGYAKARTA — Kemenangan dramatis mewarnai duel pekan ke-27 Super League Indonesia saat PSM Makassar berhasil membalikkan keadaan dan menaklukkan PSIM Yogyakarta dalam laga penuh tensi di Yogyakarta.
Babak Pertama: Dominasi Tanpa Hasil
Sejak awal laga, PSIM Yogyakarta tampil lebih agresif. Dengan penguasaan bola mencapai 61 persen, tuan rumah mencoba mengontrol ritme permainan dan menekan lini pertahanan lawan.
Kreativitas lini tengah yang digerakkan oleh Ze Valente menjadi motor serangan. Namun, dominasi tersebut tidak mampu dikonversi menjadi peluang berbahaya. Dari dua percobaan tembakan, tidak satu pun mengarah tepat ke gawang.
Di sisi lain, PSM Makassar memilih pendekatan berbeda. Mereka bermain lebih disiplin, menunggu, dan mengandalkan serangan balik cepat. Bahkan, kapten tim Yuran Fernandes harus menerima kartu kuning dini demi menghentikan potensi ancaman.
Hingga turun minum, skor 0-0 bertahan—sebuah cerminan duel antara dominasi dan disiplin.
Babak Kedua: Momentum Berubah
Memasuki babak kedua, tekanan PSIM Yogyakarta akhirnya membuahkan hasil. Gol dari Deri Corfe pada menit ke-54 membuat stadion bergemuruh.
Namun, di sinilah mentalitas “siri’ na pacce”—nilai khas Bugis tentang harga diri dan solidaritas—mulai berbicara dalam permainan PSM Makassar.
Alih-alih runtuh, mereka justru bangkit.
Comeback Dramatis Pasukan Ramang
Tekanan demi tekanan akhirnya membuahkan hasil di menit ke-79. Winger asal Montenegro, Luka Cumic, menjadi pemecah kebuntuan bagi PSM sekaligus menyamakan kedudukan.
Gol tersebut menjadi titik balik. Energi permainan berubah, kepercayaan diri meningkat, dan PSM mulai mengambil alih momentum.
Puncaknya terjadi di menit ke-90+9, ketika Dusan Lagator memastikan kemenangan lewat gol penentu. Sebuah penyelesaian yang bukan hanya membawa tiga poin, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan tim.
Lebih dari Sekadar Kemenangan
Bagi PSM Makassar, hasil ini bukan sekadar kemenangan tandang. Ini adalah pernyataan bahwa mereka belum menyerah dalam perburuan keluar dari zona bawah.
Sebaliknya, bagi PSIM Yogyakarta, kekalahan ini menjadi pelajaran mahal: dominasi tanpa efektivitas bisa berujung petaka.
Pada akhirnya, laga ini menegaskan satu hal klasik dalam sepak bola:
penguasaan bola tidak selalu menentukan hasil.
Yang lebih menentukan adalah ketahanan mental, efektivitas, dan keberanian memanfaatkan momen—
sesuatu yang ditunjukkan dengan sempurna oleh PSM Makassar melalui semangat siri’ na pacce.





