JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah warga mengaku terpaksa menggunakan jasa joki karena kesulitan mendapatkan barcode nomor antrean untuk mengambil bantuan sosial (bansos) pangan bersubsidi
Untuk memperoleh barcode tersebut, penerima bansos harus mendaftar secara online melalui situs antrianpanganbersubsidi.pasarjaya.co.id.
Tanpa barcode, mereka tidak bisa mengambil pangan bersubsidi di berbagai gerai Pasar Jaya.
Namun, masyarakat menilai proses mendapatkan barcode tidak mudah.
Baca juga: Joki Bansos Tumbuh di Celah Sistem Distribusi
Hal ini dialami oleh warga Jakarta Selatan, Rita (39), yang kesulitan memperoleh barcode untuk mengambil pangan bersubsidi dari Kartu Jakarta Pintar (KJP) milik anaknya.
Kondisi tersebut membuat Rita memilih menggunakan jasa joki untuk mengambil bantuan tersebut.
"Ya, gimana karena buat dapat pangan bersubsidi enggak mudah, harus daftar online dulu biar dapat barcode nomor antrean itu susah harus cepat-cepatan. Terus pas ngambil harus antre berjam-jam," kata Rita saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin.
Biasanya, ia membayar Rp 40.000 untuk jasa joki.
Meski demikian, Rita mengaku ikhlas karena dengan membayar Rp 40.000, ia tidak perlu mengantre lama di gerai pangan bersubsidi.
Ia cukup menunggu di rumah, sementara paket sembako diantarkan oleh joki.
Harga paket sembako bersubsidi tergolong terjangkau. Bagi pemegang KJP, paket seharga Rp 126.000 berisi beras lima kilogram, satu kilogram daging, satu kilogram ikan kembung, 15 butir telur ayam, dan satu kardus susu UHT.
Baca juga: Warga Pakai Joki untuk Ambil Bansos, Pakar: Cermin Kegagalan Sistem
Sementara bagi pemegang Kartu Lansia Jakarta (KLJ) atau Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta (KPDJ), paket dapat ditebus seharga Rp 96.000 dengan isi yang sama, namun tanpa susu.
Dengan harga yang relatif murah, penerima manfaat cenderung tidak ingin melewatkan kesempatan menebus pangan bersubsidi tersebut.
Antrean Panjang
Salah satu joki bansos, Refa (bukan nama sebenarnya), mengaku jasanya banyak diminati karena sebagian besar warga kesulitan mendapatkan barcode antrean.
"Semua alasannya sama karena mereka enggak dapat barcode online buat tebus bansos pangan bersubsidi. Karena jam 07.00 WIB online, jam 07.03 WIB aja udah ludes jadi harus kecepatan tangan," ujarnya saat diwawancarai di Jakarta Selatan, Rabu.