Sutradara Joko Anwar sempat merasa khawatir saat film Ghost in the Cell world premiere di Berlinale Film Festival pada Februari lalu. Joko hadir bersama pihak yang terlibat dalam film itu, termasuk dua pemain yakni Abimana Aryasatya dan Endy Arfian.
"Kita waktu itu sangat khawatir banget karena apa? Joke-nya kan Indonesia banget ya. Kita berpikir bahwa aduh gimana ya nanti kalau misalnya kita bawa ke Berlinale pertama kali diputar untuk publik, untuk global audience pula, dan film kita kena banned gimana, kan takut kena imbas ke Indonesia, nanti audiens Indonesia akan merasa bahwa film ini enggak bagus dan sebagainya," kata Joko di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta.
Bahkan, Joko Anwar mengatakan pihaknya merasa gugup saat melihat ada poster besar film Ghost in the Cell di pinggir jalan. "Itu kita enggak fully bisa kayak, 'Ih keren banget ya film kita.' Karena degan-degan banget," tuturnya.
Sementara itu, Abimana mengungkapkan bahwa ia sempat merasa tidak yakin terkait penayangan film Ghost in the Cell di Berlinale Film Festival. Pria 43 tahun itu khawatir para penonton tidak merasa relate dengan kisah yang diangkat dalam film tersebut. Sebab, Abimana mengatakan, para penonton yang hadir berasal dari berbagai kalangan.
"Awalnya juga saya mempertanyakan itu bagaimana jika mereka enggak relatable sama materi yang di-deliver gitu. Apalagi setelah melihat yang datang, lebih takut lagi saya, karena mix of culture, mix of age, ada ibu-ibu yang 80-90 tahun dengan suaminya, ada anak remaja mahasiswa Meksiko, ada dari Prancis," ucap Abimana.
Abimana mengungkapkan perasaan Joko saat melihat para penonton yang hadir menyaksikan film Ghost in the Cell di Berlinale. "Joko sampai annoyed juga sih tiap saat saya bilang 'Jok, ini random banget nih orangnya, terus gimana? Kita gimana mau muter gini-gini?'" ungkapnya.
Joko Anwar soal Penayangan Film Ghost in the Cell di Festival FilmNamun, menurut Joko, penayangan di festival film merupakan tempat yang cocok untuk menguji sebuah film. Meski sempat merasa khawatir, ternyata film Ghost in the Cell memperoleh sambutan positif saat penayangan di Berlinale.
"Ternyata pas mereka masuk duduk, ya ternyata joke itu sebetulnya bisa ke-deliver. Dan ternyata bisa beda-beda impact-nya ke orang-orang ini. Bahkan beberapa dialog pertama yang enggak lucu, misalnya karakter Marsha Timothy telepon sama Rio Dewanto itu, buat mereka itu lucu banget," kata Joko.
Para penonton di Berlinale, menurut Joko, juga merasa terhibur dengan cerita dalam film Berlinale. Joko menyebut mereka tertawa saat menyaksikan film Ghost in the Cell.
"Pecahnya itu dari mulai awal sampai akhir tuh ketawa terus, bahkan yang di Indonesia kita anggap enggak begitu lucu ya, misalnya apa namanya 'Lu bakal nolongin kita? Enggak, Allah yang akan nolong lu.' Itu malah mereka ketawa banget ya, kenapa ya mereka ketawa gitu," ucap Joko.





