Inalum Genjot Bisnis Berkelanjutan, Dorong Transisi Energi Bersih

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) terus memperkuat komitmennya dalam menjalankan bisnis berkelanjutan dengan mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam strategi perusahaan. Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk menjaga keberlanjutan operasional, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dan sosial yang lebih luas.

Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, menyampaikan bahwa keberlanjutan telah menjadi inti dari arah bisnis perseroan. Menurutnya, pendekatan ini tidak lagi sekadar memenuhi kewajiban, tetapi menjadi strategi jangka panjang untuk memastikan pertumbuhan perusahaan tetap relevan di tengah perubahan global.

“Kami memaknai keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis untuk menciptakan nilai jangka panjang. Upaya kami tidak hanya berfokus pada kepatuhan, tetapi juga pada penciptaan dampak nyata melalui integrasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang terukur,” ujar Melati dalam keterangan tertulis, Kamis (10/4).

Dalam implementasinya, Inalum mendorong berbagai inisiatif efisiensi energi dan optimalisasi sumber daya guna meningkatkan kinerja operasional sekaligus menekan dampak lingkungan. Perusahaan juga mengembangkan pendekatan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah, yang tidak hanya meningkatkan efisiensi tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.

Di sisi sosial, Inalum menjalankan program pemberdayaan masyarakat berbasis pengukuran dampak menggunakan pendekatan Social Return on Investment (SROI). Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah “Dari Sampah Jadi Berkah”, yang mengintegrasikan pengelolaan lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Upaya tersebut turut memperkuat posisi Inalum sebagai pelaku industri strategis yang tidak hanya berorientasi pada kinerja bisnis, tetapi juga pada kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. Perusahaan juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung transisi menuju energi bersih di Indonesia.

Secara historis, Inalum menunjukkan konsistensi dalam menjalankan praktik keberlanjutan di seluruh lini operasionalnya, baik di fasilitas peleburan maupun pembangkit listrik tenaga air. Rekam jejak tersebut menjadi fondasi bagi perusahaan untuk terus meningkatkan standar keberlanjutan di masa mendatang.

Ke depan, Inalum berkomitmen untuk terus memperkuat strategi bisnis berbasis ESG guna mendorong pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan memberikan dampak positif bagi ekonomi serta masyarakat.

Inalum meraih peringkat Proper Emas untuk operasional Pabrik Peleburan (ISP) serta Proper Hijau untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA/IPP) dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (Proper) tahun 2025.

Pada periode 2024–2025, partisipasi Proper mencapai 5.476 perusahaan atau meningkat 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, hanya 282 perusahaan yang berhasil menembus kategori beyond compliance, terdiri dari 39 perusahaan berperingkat Emas dan 243 perusahaan berperingkat Hijau. Inalum menjadi salah satu perusahaan yang berhasil masuk dalam kelompok tersebut.

“Proper bukan lagi sekadar alat evaluasi administratif. PROPER adalah motor transformasi yang mendorong perusahaan tidak hanya taat, tetapi melampaui ketaatan melalui inovasi, efisiensi sumber daya, dan kontribusi nyata kepada masyarakat," jelas dia.

Inalum mencatatkan laba bersih sebesar USD 142,8 juta pada 2025, naik 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD 123,71 juta.

Melati mengatakan, kenaikan laba bersih ini terus berlanjut dari 2023 yang hanya USD 57,45 juta ke 2024 USD 123,7 juta dan naik lagi 15 persen ke kinerja 2025.

“Kemudian di 2025 alhamdulillah kita bisa naik 15 persen menjadi USD 142 juta,” kata Melati dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (31/3).

Kenaikan laba ditopang oleh pendapatan atau revenue meningkat dari USD 548 juta pada 2023 menjadi USD 716,98 juta pada 2024, lalu naik 10 persen menjadi USD 785,78 juta pada 2025.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Restorative Justice Rismon Sianipar Masih Berproses, Tunggu Persetujuan Jokowi | SAPA MALAM
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Prakiraan Cuaca DKI Jakarta 10 April 2026: Waspada Berawan Tebal di Pagi Hari
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Soal Rapel dan Kenaikan Gaji Pensiunan PNS, PT Taspen Akhirnya Beri Pernyataan Resmi
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Kejagung Serahkan Rp 11,4 Triliun ke Negara, Disaksikan Prabowo Subianto
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Musthofa Soroti Kinerja LPS dalam Rapat DPR, Minta Indikator Terukur dan Penguatan Peran Pencegahan
• 3 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.