Kemenkes: Anak Gejala Campak Sebaiknya Tak Perlu Masuk Sekolah, Mudah Menular

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau orang tua agar tidak memaksakan anaknya untuk masuk sekolah saat anak menunjukkan gejala campak. Para orang tua diminta untuk memastikan kondisi kesehatan anaknya dulu sebelum mengizinkannya kembali bersekolah.

"Jadi jika ada gejala demam, kemudian batuk, sebaiknya ya tidak perlu masuk sekolah. Pastikan dibawa berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan, dan pastikan setelah sembuh baru dilakukan proses belajar mengajar," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, dalam jumpa pers secara virtual, Jumat (10/4).

Alasannya, menurut Andi, tingkat penularan campak sangat tinggi. Dia menyebut, satu penderita campak dapat menularkan penyakitnya ke 12 hingga 18 orang.

“Penularan daripada campak ini tinggi. RO-nya sekitar 12 sampai 18. Artinya, satu penderita bisa menularkan ke 12 sampai 18 orang,” ujar dia.

Menurutnya, kondisi ini berisiko besar terjadi di lingkungan sekolah yang melibatkan banyak interaksi antar siswa. Karena itu, anak yang mengalami gejala seperti demam, batuk, hingga muncul ruam dianjurkan untuk beristirahat di rumah.

Kemenkes juga meminta pihak sekolah dan guru lebih aktif memantau kondisi kesehatan siswa. Jika ditemukan satu kasus campak, langkah awal yang dilakukan adalah mengisolasi sementara siswa tersebut hingga benar-benar sembuh.

Selain itu, pihak sekolah diminta segera berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk dilakukan surveilans epidemiologi guna memantau potensi penyebaran.

“Jika ada yang terpapar di sekolah, segera komunikasi ke puskesmas. Nanti akan dilakukan pengawasan apakah murid lain juga mengalami gejala,” jelas Andi.

Apabila jumlah kasus meningkat, pemerintah akan melakukan imunisasi kejar (catch-up) atau bahkan Outbreak Response Immunization (ORI) secara massal di sekolah tersebut.

Kemenkes menegaskan langkah pencegahan ini penting mengingat cepatnya penyebaran campak di lingkungan tertutup seperti sekolah.

“Yang paling penting, anak yang sakit dirumahkan dulu sampai sembuh betul, agar tidak menularkan ke teman-temannya,” ucap Andi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
WFH ASN: Work from Home atau "Woles from Home?"
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
4 Pemain Timnas Indonesia Terbebas dari Belenggu Paspoortgate! Justin Hubner dan Nathan Tjoe-A-On Boleh Main Lagi di Liga Belanda
• 16 jam lalubola.com
thumb
PBB Warga Tangsel Sudah Lunas, tapi Kok Dibilang Nunggak 5 Tahun?
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Di Depan Prabowo, ST Burhanuddin Beberkan Setoran Rp11,42 Triliun dari Satgas PKH
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
BEI Sebut Emiten dengan HSC Bakal Lakukan Aksi Korporasi
• 22 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.