Rendahnya nilai numerasi dan literasi dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) bukanlah hasil yang muncul tiba-tiba. Ini merupakan buah proses pembelajaran panjang siswa.
Proses pembelajaran oleh para peserta didik tersebut telah dilakukan sejak jenjang pendidikan dasar, bahkan sejak awal mereka mengenal kemampuan membaca, memahami, dan berhitung.
Dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Sekolah Menengah Atas (SMA), nilai TKA SMA pada mata pelajaran Matematika secara rata-rata sebesar 36,1 dan Bahasa Indonesia adalah 55,38. Nilai TKA Sekolah Menengah Pertama (SMP) pun tak jauh berbeda.
Banyak siswa belum mampu mengolah informasi secara mendalam, memahami konteks bacaan secara kritis, maupun menerapkan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Rendahnya capaian itu erat kaitannya dengan metode pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan. Siswa lebih sering dilatih untuk menjawab soal dengan pola serupa, ketimbang diajak memahami konsep secara utuh. Akibatnya, ketika dihadapkan pada soal yang menuntut penalaran dan analisis, banyak siswa mengalami kesulitan.
Akar persoalan ini bisa ditelusuri sejak masa awal perkembangan anak. Kemampuan numerasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak anak mengenal angka, tetapi juga oleh paparan bahasa matematika atau Math talk dalam kehidupan sehari-hari.
Riset David J. Purpura dari Purdue University, Amerika Serikat menunjukkan, saat orangtua dan anak meluangkan waktu mengeksplorasi, menikmati, dan membicarakan Matematika bersama, maka akan tercipta pengalaman Matematika awal yang positif. Anak-anak pun memandang diri mereka sebagai pembelajar matematika yang mampu berkembang.
Kita belum mampu mengatasi persoalan fundamental terkait kemampuan dasar membahasa dan menulis.
Bahasa Matematika, seperti bahasa kuantitatif; lebih banyak, lebih sedikit, lebih sedikit, paling sedikit, paling banyak, sama, dan berbeda, atau bahasa spasial; sebelum, sesudah, di atas, di bawah, terdekat, dan terjauh, menjadi faktor lebih kuat terhadap kemampuan berhitung dibandingkan kosakata umum. Studi ini dilakukan pada ratusan anak usia 3-5 tahun.
Ketika seorang anak memahami istilah-istilah ini, mereka tidak hanya menghafal kata-kata, melainkan belajar berhitung dengan mendeskripsikan dunia di sekitar mereka.
Hal ini menunjukkan, meskipun seorang anak memiliki kosakata umum yang luas, mereka mungkin masih kesulitan dengan Matematika jika mereka belum menguasai "kata-kata matematika" sejak dini.
"Meskipun kemampuan bahasa umum awalnya tampak sebagai prediktor kemampuan berhitung, ketika dikaji bersama dengan bahasa Matematika, hanya bahasa matematika yang terbukti berpengaruh signifikan," kata David dilansir dari sciencedirect, pada Sabtu (11/4/2026).
Selain itu, anak-anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat pendidikan orangtua di bawah perguruan tinggi memiliki kemampuan bahasa Matematika yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga dengan pendidikan lebih tinggi.
Bahkan, sejak usia tiga tahun, anak-anak sebenarnya telah mulai menguasai berbagai aspek bahasa matematika. Untuk itu, tidak perlu alat yang rumit untuk mendukung anak belajar. Cukup dengan menghadirkan unsur Matematika dalam percakapan sehari-hari.
Sebagai contoh, saat makan, ajaklah anak untuk membandingkan siapa yang memiliki kerupuk lebih banyak atau potongan pizza mana yang tidak diberi pepperoni. Ketika merapikan rumah, ajak anak berlomba menemukan mainan paling dekat dengan pintu atau mencari balok berukuran lebih besar.
"Atau saat membaca bersama, manfaatkan cerita untuk mengenalkan konsep urutan, seperti siapa yang berada di posisi pertama atau tokoh mana yang memiliki stroberi paling sedikit," ucap David.
Studi ini menegaskan, pembelajaran numerasi sejatinya dimulai dari interaksi sederhana di rumah. Anak yang terbiasa diajak berdiskusi tentang perbandingan jumlah, urutan, atau posisi benda akan lebih mudah memahami konsep Matematika secara mendalam.
Sebaliknya, tanpa pengalaman tersebut, siswa cenderung hanya menghafal rumus tanpa memahami maknanya. Pada akhirnya, metode ini akan berdampak pada performa siswa dalam asesmen seperti TKA.
"Ini menunjukkan kita belum sepenuhnya mampu mengatasi masalah amat fundamental terkait kemampuan dasar yaitu membahasa dan menulis," kata Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Meski begitu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atau Kemendikdasmen tak membebankan sepenuhnya masalah ini pada murid karena TKA baru dimulai tahun ini. Artinya, murid belum menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang baru diterapkan setahun terakhir.
Kondisi ini, lanjut Mu'ti, justru membuka peluang untuk perbaikan. Kemendikdasmen terus menguatkan pendekatan deep learning yang berfokus pada pemahaman konsep, penguasaan kompetensi, dan makna, bukan sekadar hafalan materi.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui prinsip mindful (berkesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (menyenangkan), untuk membentuk profil pelajar yang kritis dan kreatif.
Dalam penerapannya, deep learning memungkinkan para guru lebih terlibat memantau dan mengarahkan pembelajaran siswa dengan lebih efektif. Guru memberikan informasi sekaligus mengajak siswa memahami makna dan relevansi materi yang diajarkan. Jadi, pembelajaran lebih aktif, menyenangkan, dan yang terpenting, penuh makna bagi siswa.
"Kalau hafalan rumus terus diberikan, mereka tidak bisa memiliki logika dan kemudian kesulitan belajar Matematika. Hal ini akan berdampak terus ke jenjang berikutnya, sehingga ada yang bicara Matematika itu mati-matian," ucapnya.
Mu’ti menegaskan, penguatan literasi dan numerasi tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah, tetapi perlu melibatkan keluarga sebagai lingkungan belajar pertama. Membiasakan Math talk dalam aktivitas sehari-hari dapat menjadi langkah sederhana namun berdampak besar dalam membangun fondasi berpikir anak.
Dengan demikian, hasil TKA seharusnya tidak hanya dilihat sebagai capaian sesaat, melainkan sebagai cerminan ekosistem pembelajaran lebih luas. Upaya perbaikan sejak dini di rumah maupun di sekolah, menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas numerasi dan literasi generasi mendatang secara berkelanjutan.





