Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto mengenang perjalanan panjang dan kedekatan pribadinya dengan dunia pencak silat saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Sabtu (11/4/2026).
Dalam sambutannya, Prabowo mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap pencak silat tidak lepas dari latar belakang keluarga yang telah lama berkecimpung dalam dunia bela diri tradisional tersebut.
“Tapi saudara-saudara, saya ingin sedikit nostalgia. Karena kakek saya salah satu juga penggemar dan pendiri perguruan pencak silat di Madiun, Setia Hati, itu tahun sebelum kemerdekaan,” ujarnya.
Dia menuturkan bahwa kakeknya tetap berlatih hingga usia lanjut, menunjukkan dedikasi tinggi terhadap pencak silat. Selain itu, Prabowo juga menyebut ayahnya pernah menjadi pembina Pengurus Besar IPSI dalam waktu yang cukup lama.
Prabowo mengatakan bahwa ayahnya merupakan salah satu pembina PB IPSI dalam waktu yang lama sehingga baginya pencak silat merupakan panggilan sebagai anak bangsa.
Pengalaman tersebut, lanjutnya, semakin diperkuat saat dirinya menempuh pendidikan militer. Prabowo menjelaskan bahwa berbagai cabang bela diri menjadi bagian wajib dalam pembentukan prajurit, termasuk pencak silat.
“Waktu saya masuk tentara di Akademi Militer, memang kita sudah diwajibkan belajar berbagai bela diri. Kita diwajibkan belajar judo, tinju wajib, dan pencak silat sudah mulai diajarkan. Hampir semua, anggar pun kita wajib,” katanya.
Ketika bertugas di pasukan khusus, tradisi tersebut terus berlanjut. Prabowo mengungkapkan bahwa pencak silat menjadi bagian dari latihan wajib, termasuk aliran tertentu yang diajarkan secara khusus.
Prabowo mengenang bahwa saat pertama kali bertugas di pasukan khusus Baret Merah, para prajurit diwajibkan mempelajari pencak silat.
Ia juga menyinggung peran tokoh militer Moeng Parhadimulyo yang disebutnya sebagai pembina di Angkatan Darat dan memiliki keterkaitan dengan perguruan silat Merpati Putih, sehingga para prajurit turut mempelajari aliran tersebut.
Karena itu, menurutnya, seluruh prajurit pada masa itu harus mempelajari Merpati Putih.
Lebih jauh, Prabowo menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar olahraga, melainkan bagian integral dari budaya dan filosofi bangsa Indonesia.
Ia mengaitkan nilai-nilai dalam pencak silat dengan kekuatan suatu bangsa. Menurutnya, keberhasilan dan ketahanan sebuah negara sangat ditentukan oleh kekuatan fisik, mental, dan moral rakyatnya.
“Kemerdekaan suatu bangsa, kebangkitan suatu bangsa, keberhasilan suatu bangsa ditentukan oleh semangat rakyatnya. Semangat rakyatnya ditentukan oleh kemampuan rakyatnya untuk menjaga dirinya, menjaga keluarganya, menjaga desanya, dan selanjutnya menjaga masyarakatnya,” paparnya.
Prabowo menekankan bahwa setiap anak bangsa harus memiliki ketangguhan secara menyeluruh, baik jasmani maupun rohani.
“Tiap anak bangsa harus kuat. Kuat fisiknya, kuat jiwanya, kuat imannya, kuat akhlaknya. Kalau tidak ada kekuatan ini, bangsa itu tidak akan langgeng,” ujarnya.
Di tengah dinamika global saat ini, ia mengingatkan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kekayaan material, tetapi juga dari ketahanan karakter masyarakatnya.
“Kita lihat hari-hari ini, bangsa-bangsa yang kaya, bangsa-bangsa yang punya segalanya, tapi jiwa rakyatnya kuat atau tidak kuat itu ditentukan kembali oleh jiwa dan raga,” kata Prabowo.
Menutup pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa menjaga dan mengembangkan pencak silat merupakan panggilan bagi setiap anak bangsa, khususnya dalam mempertahankan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Ia menambahkan bahwa setiap anak ksatria perlu memahami, mengkaji, dan mempertahankan warisan tersebut.





