Teheran: Iran membantah klaim Amerika Serikat (AS) yang menyebut kapal perangnya telah memasuki Selat Hormuz sebagai bagian dari operasi pembersihan ranjau.
Menurut laporan kantor berita semi-resmi Tasnim, militer Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa tidak ada kapal perang AS yang melintasi jalur strategis tersebut.
Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, secara langsung membantah pernyataan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, terkait masuknya kapal perang AS ke Selat Hormuz.
“Inisiatif dalam lalu lintas dan perlintasan kapal apa pun berada di tangan angkatan bersenjata Iran,” ujar Zolfaghari, dikutip dari Anadolu Agency, Minggu, 12 April 2026.
IRGC juga menegaskan bahwa mereka memiliki “kendali penuh dan manajemen cerdas” atas Selat Hormuz. Dalam pernyataan resminya, Iran menyebut bahwa jalur tersebut hanya dibuka untuk kapal nonmiliter dengan aturan dan standar tertentu.
Teheran turut memperingatkan bahwa setiap upaya kapal militer untuk memasuki Selat Hormuz akan dihadapi dengan “ketegasan dan tekad penuh”.
Di sisi lain, CENTCOM sebelumnya menyatakan bahwa dua kapal perusak berpeluru kendali AS telah melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari misi yang lebih luas untuk memastikan jalur tersebut bebas dari ranjau laut yang diklaim dipasang oleh Iran.
“Kami memulai proses pembentukan jalur pelayaran aman dan akan segera membagikannya kepada industri maritim,” kata Cooper.
CENTCOM juga menyebut bahwa operasi ini akan diperkuat dengan tambahan aset militer, termasuk drone bawah laut, dalam beberapa hari ke depan.
Pernyataan yang saling bertolak belakang ini muncul hanya beberapa jam setelah putaran terbaru perundingan langsung antara Iran dan AS berakhir di Islamabad, Pakistan. Media Iran melaporkan bahwa kedua pihak kini tengah membahas draf tertulis sebagai tindak lanjut negosiasi.
Pakistan menjadi tuan rumah perundingan yang dinilai sebagai kontak paling signifikan antara kedua negara sejak 1979, dengan tujuan meredakan konflik kawasan di tengah gencatan senjata rapuh selama dua pekan.
Baca juga: Militer AS Memulai Operasi Awal untuk Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz




