Upaya menjaga stabilitas pangan kembali diperkuat pemerintah. Kementerian Pertanian memfasilitasi kesepakatan antara importir dan pengrajin tahu-tempe untuk menahan laju kenaikan harga kedelai di tengah tekanan global.
Melalui kesepakatan ini, diterapkan Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp11.500 per kilogram di tingkat importir. Dengan skema tersebut, harga kedelai di tingkat pengrajin dipastikan tetap berada di bawah Rp12.000 per kilogram hingga ada kebijakan lanjutan.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menegaskan bahwa isu lonjakan harga kedelai hingga Rp20.000 per kilogram yang sempat beredar tidak sesuai fakta di lapangan.
“Kami sudah verifikasi langsung ke pelaku usaha, dan informasi yang menyebut harga kedelai tembus Rp20 ribu itu tidak benar. Harga tetap di bawah HAP, bahkan di level importir masih sekitar Rp11.500,” tegas Yudi.
Berdasarkan data Gakoptindo yang diolah Badan Pangan Nasional per 8 April 2026, harga kedelai di berbagai wilayah masih berada dalam rentang wajar.
Di Jakarta, harga berkisar Rp10.500–Rp11.000 per kg, Jawa Rp10.555 per kg, Bali dan NTB Rp10.550 per kg, Sumatra Rp11.450 per kg, Sulawesi Rp11.113 per kg, dan Kalimantan Rp10.908 per kg. Seluruhnya masih berada di bawah batas maksimal Rp12.000 per kg di tingkat pengrajin.
Yudi juga memastikan kondisi pasokan masih aman dan harga tetap terkendali. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir karena stok kedelai masih mencukupi kebutuhan nasional.
“Persediaan masih cukup, harga juga masih terkendali sesuai dengan acuan pemerintah. Jadi tidak perlu dikhawatirkan,” ujarnya.
Meski demikian, Yudi tidak menampik adanya tekanan dari dinamika global. Kenaikan biaya logistik, transportasi, hingga komponen pendukung lainnya menjadi faktor yang turut memengaruhi harga.
“Memang ada dampak dari perubahan geopolitik yang menyebabkan ongkos produksi dan distribusi meningkat. Tapi untuk kondisi saat ini pasokan masih cukup dan harga masih terkendali. Ini yang perlu kami sampaikan agar tidak terjadi kekhawatiran di masyarakat,” jelasnya.
Dari sisi pelaku usaha, Direktur PT FKS Multi Agro Tbk, Tjung Hen Sen, menyampaikan bahwa kondisi harga saat ini masih tergolong stabil meskipun menghadapi tekanan eksternal.
“Saya rasa di tingkat importir saat ini sudah wajar, mungkin di sekitar Rp10.100 sampai Rp10.300 per kilogram tergantung wilayah. Di tingkat pengrajin mungkin sekarang ini sekitar Rp10.500 sampai dengan Rp11.000 per kilogram,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga stabilitas harga di tengah tantangan global.
“Saat ini kami mencoba dengan sangat keras untuk menjaga kestabilan dari harga komoditas kedelai. Tapi perlu dicatat ada beberapa faktor seperti geopolitik yang berdampak pada ongkos logistik, asuransi kapal, hingga bahan penunjang,” ungkapnya.
Baca Juga: Harga Plastik Melonjak, Kemenperin Dorong Industri Cari Bahan Baku Alternatif
Baca Juga: Menko Pangan Zulhas: Perang Timur Tengah Picu Kelangkaan Karung Gabah
Ke depan, Kementerian Pertanian akan terus mengawal implementasi kesepakatan ini sekaligus mendorong peningkatan produksi dalam negeri. Tahun ini, pemerintah menargetkan pengembangan kedelai seluas 37.500 hektare sebagai langkah mengurangi ketergantungan impor.
“Tahun ini kita punya program pengembangan kedelai sekitar 37.500 hektare. Ini akan terus kita dorong sehingga ke depan ketergantungan terhadap impor bisa kita kurangi,” tutup Yudi.





