Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diprediksi sukar untuk beranjak dari level Rp17.000 per dolar AS dalam sepekan ke depan. Meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi faktor yang membebani mata uang Garuda.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya potensi perang terbuka antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, telah menciptakan kekhawatiran besar di pasar global.
Konflik itu diperparah dengan laporan intelijen mengenai pengiriman persenjataan dari Tiongkok ke Iran yang memicu kemarahan Donald Trump.
“Pelemahan mata uang rupiah kemungkinan masih akan bertahan di atas level Rp17.000,” ujar Ibrahim kepada awak media, Minggu (12/4/2026).
Dia juga memandang risiko penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang dapat menghambat transportasi minyak mentah dunia.
Jika hal ini terjadi, harga minyak jenis WTI diprediksi melesat ke level US$108 per barel. Kenaikan harga energi ini secara otomatis akan mendongkrak inflasi global dan memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi.
Di sisi lain, pasar juga tengah mencermati transisi kepemimpinan di Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Spekulasi mengenai penunjukan Kevin Warsh oleh Trump memunculkan ekspektasi adanya kerja sama untuk menurunkan suku bunga demi harmoni dengan pemerintah.
Namun, Ibrahim menilai bahwa selama perang terbuka masih mengancam, investor cenderung memegang dolar sebagai aset aman atau safe-haven.
“Kalau terjadi perang terbuka, harga emas naik, harga minyak naik, dan dolar pun ikut naik. Ini yang berdampak pada pelemahan rupiah sehingga harga logam mulia di dalam negeri pun ikut terdongkrak,” pungkas.
Secara teknis, indeks dolar AS diprediksi akan bergerak melebar dalam rentang US$97 hingga US$101. Penguatan indeks dolar tersebut menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang saat ini sangat sensitif terhadap arus keluar modal asing (capital outflow).
Sementara itu, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini, meskipun IHSG menguat, investor asing masih mencatatkan nilai jual bersih secara akumulatif sebesar Rp37,14 triliun sepanjang tahun berjalan 2026.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





