KOMPAS.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Jawa Timur (Jatim) menggelar acara Halalbihalal di tengah suasana bulan Syawal 1447 Hijriah.
Dalam momentum tersebut, partai berlambang banteng moncong putih ini menegaskan kembali kedekatan historis dan ideologisnya dengan Nahdlatul Ulama (NU).
Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Said Abdullah mengatakan, Jatim merupakan basis dari ijo-abang (hijau-merah), yakni santri dan abangan.
“Santri cerminan dari kekuatan NU, abang menandakan kekuatan nasional, PDI-P. Keduanya menjadi akar politik hingga ke kampung kampung di Jatim,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (12/4/2026).
Mengutip Clifford Geertz, Said memaparkan bahwa pembelahan sosial yang terjadi sejak era 50-an ini kini sudah berangsur-angsur melebur.
Baca juga: PDI-P dan Gerindra Kompak Tak Akui Bupati Tulungagung Gatut Sunu Sebagai Kader
Di berbagai survei nasional, pemilih yang mengaku NU ternyata suaranya terbanyak disalurkan ke PDI-P.
“Oleh sebab itu, PDI-P, apalagi di Jatim, tidak akan meninggalkan NU,” ungkapnya.
Said menyebutkan, santri dan abangan hanya berbeda dalam sehelai bulu, yang satu rajin shalat, yang satu kurang rajin shalat.
“Namun, nasibnya sama, sama-sama miskin, sama-sama mayoritas yang terbelakang dari sisi pendidikan, sama-sama susah mendapatkan pekerjaan yang layak, pokoknya sama-sama kisah sedih isinya. Banyak kesamaannya, minim perbedaannya,” ujarnya.
Said memaparkan tugas sosial pengurus NU adalah memberdayakan warga NU, sedangkan tugas politik PDI-P adalah memperjuangkan kebijakan di pemerintahan daerah, DPRD, maupun pusat.
Baca juga: Instruksi Megawati, PDI-P Gencarkan Program Makan Siang Gratis untuk Warga Desa
PDI-P secara politik juga bertugas menyejahterakan warga NU dan rakyat Jatim keseluruhan.
“NU dan PDI-P memiliki cita-cita ideologis yang sama. Nilai-nilai ke-NU-an, yakni kekuatan Islam yang senantiasa memedomani Islam wasathiyah, yakni Islam moderat, yang menekankan prinsip pertengahan, adil, seimbang (tawazun), dan toleran (tasamuh) dalam segala dimensi kehidupan, menolak ekstremisme baik kiri maupun kanan,” katanya.
Dia menekankan, Islam wasathiyah pun menjadi pedoman langkah-langkah politik PDI-P.
“Kami menolak Islam dihadirkan secara menakutkan, terutama di hadapan kelompok minoritas. Mereka saudara sebangsa sendiri. Keislaman kita harus memayungi, memberi rahmat, dan kedamaian,” tegasnya.
Untuk itu, kata Said, PDI-P senang bila ada tokoh NU ikut menjadikan PDI-P sebagai rumah politiknya.
Baca juga: Diminta Deddy PDI-P Pindah ke IKN, Gibran: Nanti Kita Sama-sama Berkantor di IKN





