JAKARTA, DISWAY.ID - Harga minyak bisa membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk kembali ke level sebelum perang Iran-Israel, bahkan jika gencatan senjata bertahan.
Hal itu disampaikan oleh para ahli Australia memperingatkan.
Para analis menyatakan bahwa stabilitas gencatan senjata masih belum pasti dan kerusakan besar pada infrastruktur menjadi salah satu dari banyak faktor yang akan menjaga harga tetap tinggi dalam waktu yang dapat diperkirakan.
Pasar minyak global bisa memerlukan waktu selama satu tahun untuk kembali ke kondisi “normal” seperti sebelum perang Iran, bahkan jika konflik berakhir besok, menurut para pakar terkemuka dilansir dari Straits Times.
BACA JUGA:Selat Hormuz dan Uranium Jadi Tameng, Iran Tolak Tekanan AS di Meja Perundingan
Harapan untuk pembukaan kembali jalur pengiriman melalui Selat Hormuz secara segera pupus setelah Israel membombardir Lebanon tak lama setelah pengumuman gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran.
Media Iran melaporkan bahwa lalu lintas melalui selat tersebut telah dihentikan sebagai respons.
Setelah berita kesepakatan tersebut pada pertengahan minggu, harga minyak acuan global, Brent crude, sempat anjlok sekitar USD20 per barel hingga mendekati USD90 namun kemudian kembali naik ke atas USD97 per barel.
Para analis memperingatkan bahwa peristiwa dalam 48 jam terakhir menunjukkan betapa jauh kemungkinan berakhirnya perang melalui negosiasi.
BACA JUGA:Selat Hormuz Tak Kunjung Dibuka, Bahlil Ungkap Kondisi Real Stok LPG
Para trader mata uang bekerja di depan layar yang menampilkan indeks Kospi dan nilai tukar antara dolar AS dan won Korea Selatan di ruang transaksi valuta asing di kantor pusat Hana Bank di Seoul, Korea Selatan.
Selat Hormuz belum dibuka kembali.
BACA JUGA:Eddy Soeparno Sebut Iran Proses Izin Kapal Tanker Pertamina Melintasi Selat Hormuz
Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, mengatakan bahwa negara-negara Teluk menentang adanya pengaturan tarif resmi dengan angkatan bersenjata Iran untuk memungkinkan pengiriman melalui selat tersebut, yang merupakan salah satu proposal awal Iran dalam kesepakatan gencatan senjata.
“Yang paling penting, kami melihat bahwa mekanisme untuk membuka kembali selat tersebut akan sangat rumit, dengan kemungkinan Iran memiliki kendali atau ‘hak suara’ atas hampir setiap barel minyak yang melewati jalur itu, sampai negara-negara Teluk dapat membangun jalur alternatif,” kata Croft.





