Transisi energi hijau sering dipromosikan sebagai solusi masa depan yang bersih dan berkelanjutan. Namun, ada satu ironi yang jarang disadari. Mobil listrik, baterai, dan teknologi ramah lingkungan yang kita anggap sebagai simbol kemajuan ternyata bergantung pada sumber daya dari kawasan yang selama ini justru terpinggirkan, yaitu Afrika.
Di balik perkembangan industri kendaraan listrik global, terdapat kebutuhan besar akan mineral penting seperti kobalt dan lithium. Salah satu negara kunci dalam rantai pasok ini adalah Democratic Republic of the Congo, yang menyumbang sebagian besar produksi kobalt dunia. Mineral ini menjadi komponen utama dalam baterai kendaraan listrik yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar di dunia. Dengan kata lain, transisi energi hijau global tidak bisa dilepaskan dari peran Afrika.
Namun, ketergantungan ini tidak otomatis berarti keuntungan bagi negara-negara Afrika. Justru, muncul pertanyaan klasik dalam ekonomi politik global: apakah Afrika akan mendapatkan manfaat dari kekayaan sumber daya ini, atau kembali terjebak dalam pola eksploitasi seperti masa lalu? Sejarah menunjukkan bahwa negara kaya sumber daya sering kali tidak menikmati hasilnya secara optimal, sebuah fenomena yang dikenal sebagai resource curse.
Dalam konteks ini, aktor global memainkan peran penting. China telah secara agresif berinvestasi dalam sektor pertambangan Afrika, membangun infrastruktur, dan mengamankan akses terhadap mineral penting. Di sisi lain, negara-negara Barat mulai meningkatkan perhatian terhadap kawasan ini sebagai bagian dari strategi rantai pasok global mereka. Persaingan ini menunjukkan bahwa Afrika bukan lagi sekadar wilayah pinggiran, tetapi menjadi pusat kepentingan strategis dalam ekonomi global.
Namun demikian, peningkatan perhatian global ini juga membawa risiko baru. Jika tidak dikelola dengan baik, Afrika hanya akan menjadi medan persaingan kekuatan besar tanpa mendapatkan posisi tawar yang signifikan. Nilai tambah dari sumber daya tersebut tetap akan dinikmati oleh negara industri, sementara negara produsen tetap berada pada posisi yang lemah dalam rantai nilai global.
Di sisi lain, situasi ini juga membuka peluang. Negara-negara Afrika memiliki kesempatan untuk memperkuat posisi mereka melalui kebijakan yang lebih strategis, seperti pengembangan industri hilir dan negosiasi kontrak yang lebih menguntungkan. Jika dikelola dengan tepat, transisi energi hijau dapat menjadi momentum bagi Afrika untuk keluar dari pola ketergantungan lama.
Dengan demikian, narasi tentang energi hijau tidak bisa hanya dilihat sebagai isu lingkungan semata. Ia juga merupakan isu politik dan ekonomi global yang melibatkan ketimpangan kekuasaan dan distribusi manfaat. Pertanyaannya bukan lagi apakah dunia akan beralih ke energi hijau, tetapi siapa yang benar-benar diuntungkan dari transisi tersebut.
Pada akhirnya, masa depan energi hijau dunia mungkin tidak hanya ditentukan oleh teknologi di negara maju, tetapi juga oleh bagaimana Afrika mampu memposisikan dirinya dalam sistem global. Jika tidak, maka energi hijau hanya akan menjadi wajah baru dari ketimpangan lama.





