JAKARTA, KOMPAS.com – Sebagian orangtua harus menelan pil pahit saat pertama kali mengetahui buah hati mereka terdiagnosis gangguan perkembangan saraf Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Kondisi itu dialami ibu rumah tangga di Manggarai, Jakarta Selatan, Debby Rosaliana Febriani (40).
Putra satu-satunya, Azzikra Benzema Ibnusina (10), telah dipastikan terdiagnosis ADHD setelah menjalani berbagai pemeriksaan ke dokter dan psikolog.
Tanda Awal Sejak Balita
Debby mulai merasa ada yang tidak beres saat anaknya berusia satu tahun delapan bulan.
Perempuan berdarah Manado yang terbiasa mengasuh keponakan ini menilai perilaku anaknya berbeda karena sangat aktif.
Baca juga: ADHD Tak Bisa Sembuh Total, Ini Cara Penanganan yang Tepat Menurut Psikolog
"Sebelum dia berusia satu tahun, saya sering mengasuh keponakan. Biasanya anak-anak itu bisa diam, tetapi Jema ini tidak bisa diam sama sekali. Keponakan saya juga aktif memanjat, tetapi Jema ini tingkatnya lebih parah, dia bisa memanjat sampai ke atas lemari," ungkap Debby saat diwawancarai di kediamannya, Minggu (12/4/2026).
Tak hanya lemari, Jema juga kerap mencari cara untuk memanjat ke tempat yang lebih tinggi, bahkan hingga pagar.
Menurut Debby, anak dengan ADHD sangat pintar mencari celah. Saat dilarang keluar rumah, mereka tetap berusaha menemukan jalan, termasuk melalui jendela.
Di sisi lain, meski sangat aktif, kemampuan bicara Jema belum berkembang optimal di usia lebih dari satu tahun.
"Meskipun sangat aktif, Jema belum juga bicara hingga usia satu tahun lebih. Dia hanya memanggil ayahnya, bilang 'susu,' 'ayah,' dan menghitung angka, tetapi dia tidak pernah memanggil saya 'ibu', saya mulai curiga," jelas Debby.
Awal Diagnosis dan Terapi
Di tengah kebingungan, Debby dan keluarga sempat pergi ke Surabaya, Jawa Timur, untuk menghadiri acara keluarga.
Di sana, ia bertemu dengan kerabat yang merupakan seorang konselor.
Baca juga: Kisah Dosen Baru Sadar ADHD di Usia Dewasa, Ini Tanda dan Risikonya
"Baru melihat sebentar, saudara saya langsung tahu dan mendiagnosisnya," tutur Debby.
Selama 10 hari di Surabaya, Jema menjalani terapi awal secara gratis. Debby kemudian disarankan melanjutkan terapi di Jakarta dengan memanfaatkan BPJS Kesehatan.