BI Wanti-wanti Stagflasi Global, Ekonomi RI Disebut Masih Tahan Tekanan

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Ancaman tekanan ekonomi global kian meningkat seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu dampak luas ke pasar keuangan, harga komoditas, hingga rantai pasok global.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan dampak konflik tersebut tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui efek tidak langsung yang justru lebih besar terhadap sistem keuangan global.

“Ketidakpastian pasar keuangan global dan juga sentimen risk itu akan naik. Jadi bukan hanya middle east saja yang kena atau Iran, tapi justru yang di luar itu mereka ketidakpastiannya dan risiko finansialnya memang meningkat,” ujar Destry dalam acara Central Banking Forum 2026 di Hotel Mandarin, Senin (13/4).

Peningkatan ketidakpastian ini mendorong pelaku pasar global cenderung menghindari risiko (risk-off) dan beralih ke aset yang lebih aman. Aliran dana pun bergerak keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, meskipun dalam beberapa waktu terakhir mulai terlihat tanda-tanda masuknya kembali dana asing.

“Di Indonesia kita merasakan, walaupun alhamdulillah sekarang sudah mulai kita lihat inflow ada masuk di SBN, kemudian di saham mulai sedikit, kemudian ada di SRBI. Tapi overall kita masih terjadi outflow sekitar Rp 21 triliun,” kata dia.

Tekanan juga datang dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi global. Kondisi ini membuat aset di negara maju menjadi lebih menarik, sehingga mempersempit ruang masuknya modal ke negara berkembang.

Selain jalur finansial, konflik juga berdampak pada harga komoditas global. Gangguan distribusi minyak di kawasan Timur Tengah, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia, mendorong kenaikan harga minyak.

Kenaikan ini kemudian merambat ke berbagai komoditas lain. Harga emas melonjak sebagai aset safe haven, sementara komoditas energi dan bahan baku lain seperti batu bara, LNG, dan CPO turut mengalami peningkatan.

Meski demikian, Destry menilai kondisi ini tidak sepenuhnya negatif bagi Indonesia. Sebagai negara pengekspor komoditas, kenaikan harga tersebut justru bisa memberikan tambahan dorongan bagi kinerja ekspor nasional.

Namun secara keseluruhan, tekanan global tetap berpotensi membawa ekonomi dunia ke situasi yang tidak ideal. "PDB global akan lebih lambat dibanding tahun 2025. Tapi inflasinya akan lebih tinggi,” ujarnya.

Kondisi tersebut mencerminkan risiko stagflasi, yakni ketika pertumbuhan ekonomi melambat di tengah kenaikan inflasi, situasi yang menyulitkan banyak negara dalam merumuskan kebijakan ekonomi.

“Jadi ini kondisi kalau ekonom, kalau ini nanti Pak David (Ekonom BCA) yang akan paparan, ini kondisi yang nggak terlalu bagus buat ekonomi global ya, namanya stagflasi. Ekonominya stagnan, inflasinya naik," ungkapnya.

Di tengah tekanan global tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki ketahanan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal I 2026 diperkirakan tetap berada di atas 5 persen, ditopang oleh konsumsi masyarakat yang kuat.

Dari sisi inflasi, tekanan juga mulai mereda. Setelah sempat meningkat pada awal tahun akibat faktor musiman dan kebijakan, inflasi pada Maret tercatat turun menjadi 3,48 persen dan kembali ke dalam kisaran sasaran.

Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter. Intervensi dilakukan secara aktif di pasar keuangan, baik melalui transaksi spot, DNDF, maupun NDF di pasar offshore. “Bank Indonesia sekarang buka 24 jam,” tegasnya.

Selain itu, BI juga memperluas kerja sama transaksi menggunakan mata uang lokal dengan berbagai negara mitra. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menekan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Di sisi domestik, penguatan tata kelola transaksi valas juga dilakukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, termasuk melalui pengaturan kewajiban underlying pada transaksi tertentu.

Destry menegaskan, menjaga stabilitas ekonomi nasional tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan.

“Bahwa stabilitas hari ini adalah hasil kerja bersama. Bukan hanya kerjanya BI, bukan hanya kerjanya kementerian keuangan, bukan hanya kerjanya pemerintah, bukan hanya kerjaannya industri Bapak Ibu sekalian, ini adalah hasil kerja kita bersama menjaga stabilitas,” kata dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Selat Hormuz Makin Panas, Amerika Serikat Blokade Pelabuhan Iran
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bayi Baru Lahir Wajib Daftar BPJS, Ini Cara dan Syaratnya
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pemilu Hongaria Dimulai, Orban Hadapi Oposisi Terberat dalam 16 Tahun
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pusing Lihat Gebrakan Pinkan Mambo Setiap Hari, Arya Khan Bocorkan Karakter Tak Biasa Istri
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Autopedia (ASLC) Siapkan Rp20 Miliar untuk Buyback Saham
• 6 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.