Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, selama 21 jam berakhir tanpa kesepakatan. Kedua pihak menggelar pembicaraan damai sejak Sabtu (11/4/2026) terkait upaya penghentian perang, namun hasilnya menemui jalan buntu.
Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa kebuntuan ini justru menjadi kabar buruk bagi Iran dibandingkan bagi Washington.
“Kabar buruknya adalah kami tak mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu merupakan berita buruk bagi Iran, lebih dari untuk Amerika Serikat,” ujarnya, dikutip Senin (13/4).
Ia menegaskan AS telah mengutarakan syarat-syarat yang jelas dalam perundingan tersebut, namun Iran menolak.
“Jadi kami akan kembali ke AS, tak mencapai kesepakatan. Kami telah menegaskan dengan jelas batas kami, dan apa yang kami ingin akomodir dengan mereka, dan apa yang tak ingin kami akomodir. Kami telah membuatnya jelas, dan mereka memilih tak menerima syarat kami,” ucapnya.
Menurut Vance, AS sudah bersikap fleksibel dan akomodatif terhadap Iran, namun tetap gagal mencapai titik temu.
“Kami tidak bisa mencapai situasi di mana Iran bersedia menerima persyaratan kami. Saya pikir kami cukup fleksibel, cukup akomodatif,” katanya.
“Presiden mengatakan kepada kami, ‘kalian datang dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan’. Kami melakukan itu, dan sayangnya kami tak mampu mencapai kemajuan apa pun,” tambahnya.
Baca Juga: Kemenlu Iran Soroti Keraguan dan Kecurigaan dalam Dialog dengan AS
Ia menegaskan bahwa AS telah memberikan penawaran terakhir dan terbaik kepada Iran. Meski demikian, Vance tetap mengapresiasi Pakistan sebagai tuan rumah yang berperan aktif menjembatani kedua pihak.
“Apa pun hasil dari negosiasi ini, itu bukan karena Pakistan, yang telah melakukan pekerjaan hebat, dan mencoba membantu menjembatani kami dan Iran untuk mencapai kesepakatan,” tuturnya.





