Bisnis.com, JAKARTA – Belasan emiten tengah mengambil ancang-ancang untuk melakukan rights issue pada tahun ini. Terdesak aturan anyar, kebutuhan untuk bertumbuh dan gejolak pasar, aksi korporasi ini tidak dapat dielakkan oleh para perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Melansir keterbukaan informasi BEI, sedikitnya terdapat 19 emiten yang berencana melakukan aksi korporasi rights issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD). Tidak tanggung-tanggung, di tengah seretnya likuiditas dalam negeri, sejumlah emiten tampil percaya diri dengan menerbitkan miliaran lembar saham baru.
Data yang dihimpun Bisnis dari laman resmi BEI, menemukan bahwa PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) menjadi salah satu emiten yang jor-joran menerbitkan saham baru. Dalam aksi rights issue ini, BNBR bahkan berencana menerbitkan 86,70 miliar saham biasa seri E.
Dengan tujuan membayar utang dan menyuntikkan modal kepada anak usaha, BNBR membanderol harga per saham mencapai Rp12 per lembar.
Selain BNBR, aksi serupa juga diumumkan oleh emiten milik Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) yang berencana melakukan rights issue dengan total saham mencapai 50 miliar lembar saham baru.
Dengan nominal Rp50 per saham, BUVA berencana menggelontorkan dana hasil rights issue untuk belanja modal, yang mencakup pembelian lahan, pengembangan aset serta usaha, pengambilalihan perusahaan, hingga mewujudkan pertumbuhan anorganik perseroan.
Termungil, aksi rights issue juga dilakukan oleh PT Multitrend Indo Tbk. (BABY) dengan mengeluarkan 238,59 juta lembar saham baru pada harga pelaksanaan Rp590 per saham. Aksi ini dilakukan dalam rangka aksi akuisisi dan belanja modal.
Namun, di baliksederet rencana emiten dalam menerbitkan saham baru, terdapat kebutuhan emiten untuk memenuhi aturan anyar free float, yang oleh BEI dikerek pada akhir Maret lalu menjadi 15%. Rights issue sebagai sebuah aksi korporasi kini tidak dapat dipandang hanya pada rencana penggunaan dana, tetapi merinci pada daya serap pasar terhadap penerbitan saham baru tersebut.
Seretnya likuiditas dalam negeri tampak dari lesunya IHSG sepanjang tahun berjalan 2026 sebesar 13,26%. Sejalan dengan itu, data BEI per 10 April 2026, menunjukkan net sell asing masih menghantui pasar saham Tanah Air senilai Rp37,14 triliun year-to-date (YtD).
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai kondisi likuiditas dalam negeri saat ini tengah menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, net sell asing tercatat masif lantara ketidakpastian global, sementara di sisi lain suku bunga BI yang berada pada level 4,75% dinilai membuat biaya modal relatif tinggi.
Dengan begitu, daya serap investor terhadap penerbitan saham baru akan sangat terfragmentasi. Artinya, saham dengan rencana ekspansi yang matang memiliki kemungkinan besar untuk terserap, tetapi tidak untuk emiten dengan rencana penggunaan dana refinancing.
”Penyerapan saham baru akan sangat terfragmentasi. Saham dengan story ekspansi yang jelas kemungkinan besar tetap terserap. Namun, emiten yang melakukan rights issue untuk membayar utang, pasar akan cenderung skeptis dan selektif,” katanya kepada Bisnis, Senin (13/4/2026).
Senada, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menilai lesunya likuiditas dapat tercermin dari aksi net foreign sell yang masih menghantui pasar saham Tanah Air. Likuiditas dinilai lebih terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi jumbo, sehingga minat terhadap saham second liner cenderung terbatas.
Dalam kondisi ini, investor dinilai akan lebih memilih untuk menyerap rights issue berdasarkan fundamental emiten itu sendiri.
”Dalam kondisi seperti ini, kemampuan pasar untuk menyerap rights issue akan sangat bergantung pada dua faktor utama, yaitu kualitas fundamental emiten dan kejelasan penggunaan dana. Jika kedua faktor tersebut dipandang positif oleh mayoritas pelaku pasar, masih berpotensi terserap dengan baik,” katanya, Senin (13/4/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





