CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ketegangan geopolitik global kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) resmi memulai blokade di Selat Hormuz pada Senin malam ini. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump menyusul gagalnya perundingan damai dengan Iran.
Blokade dijadwalkan mulai berlaku pukul 10.00 waktu Eastern Time (ET) atau sekitar pukul 21.00 WIB. Langkah ini menjadi babak baru dalam konflik yang sebelumnya sempat mereda lewat gencatan senjata selama dua pekan.
Keputusan tersebut diambil setelah perundingan antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Situasi ini sekaligus memperburuk stabilitas kawasan Teluk yang sebelumnya telah diguncang konflik bersenjata selama enam minggu.
Trump menegaskan bahwa militer AS akan bertindak tegas terhadap kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran.
"Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses blokade semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz," kata Trump.
Ia juga memperingatkan bahwa kapal yang membayar pungutan kepada Iran tidak akan mendapatkan perlindungan keamanan di laut lepas.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa blokade akan diberlakukan secara luas terhadap seluruh kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran, baik di Teluk Persia maupun Teluk Oman.
Artinya, kapal tanker maupun kapal niaga dari negara mana pun tetap berpotensi diperiksa atau dicegat jika terindikasi berhubungan dengan Iran.
Meski demikian, pihak militer AS menegaskan bahwa kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk mengganggu kebebasan navigasi internasional. Kapal yang hanya melintas tanpa tujuan ke pelabuhan Iran disebut tetap diperbolehkan lewat.
Langkah ini juga akan disertai pemberitahuan resmi kepada pelaku pelayaran global guna meminimalisir gangguan terhadap arus logistik dunia.
Di sisi lain, Iran langsung merespons keras kebijakan tersebut. Korps Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekat akan dianggap melanggar gencatan senjata.
Ketegangan meningkat tajam setelah kedua negara saling menyalahkan atas kegagalan negosiasi. Pihak AS menuding Iran menolak tuntutan utama, termasuk penghentian program nuklir dan dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
Sebaliknya, Iran menilai Washington mengubah aturan di menit akhir saat kesepakatan hampir tercapai.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini langsung berdampak pada pasar energi global.
Harga minyak mentah dilaporkan melonjak hingga lebih dari 100 dolar AS per barel setelah pengumuman blokade, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya distribusi energi.
Sejumlah pihak internasional juga mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap stabilitas global. Uni Eropa menilai kebebasan navigasi di Selat Hormuz merupakan hal yang sangat krusial dan harus segera dipulihkan.
Sumber: Reuters/Kompas




