Prof. Jhon Ruhulesin-Mantan Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku ikut bicara terkait pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla yang dilaporkan ke ke Polda Metro Jaya. Pernyataannya itu disampaikan JK pada ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM).
"Saya ingin memberikan persepsi saya, saya memberikan perspektif sebagai kapasitas saya sebagai orang yang ikut dalam konflik maluku dan berkewajiban dan bertanggungjawab untuk menjaga kondisi yang tetap kondusif," kata Jhon lewat keterangannya, Selasa (14/4).
Anggota delegasi kelompok kristen untuk perundingan Malino II untuk Maluku tahun 2002 ini menyebut JK adalah sosok arisitek perdamaian di Maluku.
Ia menilai pernyataan itu tak menyinggung doktrin agama tertentu. Menurutnya, pernyataan itu dalam konteks konflik di Maluku dan Poso.
"Saya merasa dan mengikuti betul ceramah pak Jusuf Kalla saya berkesimpulan bahwa apa yang dikemukakan pak JK sebetulnya konteksnya adalah konflik di Maluku dan di Poso ya. Kita tahu bahwa pak JK adalah arsitek yang bersama sama dengan pemerintah Indonesia waktu itu ikut menyelesaikan konflik di Maluku. Beberapa kali datang ke Ambon dan proses perdamaian Malino," imbuhnya.
"Pak JK dalam konteks itu tidak berbicara pada kepentingan doktrin suatu agama. Apalagi doktrin yang menyangkut agama kristen saya kira pak JK tidak bermaksud seperti itu," jelasnya.
Untuk itu, Jhon berharap semua pihak tidak menyalahartikan pernyataan itu. Ia mengajak semua pihak untuk sama-sama menjaga kedamaian terutama untuk kepentingan masyarakat Maluku dan Ambon.
"Yang beliau lihat kondisi praktis ketika penyelesaian konflik bahwa orang mencari legitimasi-legitimasi agama untuk berperang. Pak JK hanya merekam yang pendapat yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dia tidak berbicara pada perspektif doktrin agama tertentu," tandasnya.





