Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat, baru-baru ini menghadapi reaksi negatif setelah memposting gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan dirinya sebagai Yesus Kristus.
Gambar tersebut diunggah pada platform media sosial miliknya, Truth Social, dan menunjukkan Trump mengenakan jubah putih dengan tangan bercahaya yang seolah-olah sedang menyembuhkan seseorang. Postingan ini langsung menarik perhatian publik, terutama karena konteksnya yang sensitif dan emosional.
Setelah menuai kritik yang sangat keras dari berbagai kalangan, termasuk tokoh agama dan politik, Trump menghapus gambar tersebut. Penghapusan ini dilakukan satu hari setelah unggahan dan diiringi oleh beragam komentar negatif mengenai ketidakpantasan gambar tersebut.
Dalam penjelasannya, Trump menyatakan bahwa gambar itu seharusnya menunjukkan dirinya sebagai seorang dokter dan bukan sebagai sosok yang menyerupai Yesus, serta membela diri dengan mengatakan bahwa berita terkait dirinya hanyalah berita palsu.
Kritik terhadap Trump datang dari berbagai arah. Warganet di media sosial mengekspresikan kemarahan mereka, dengan beberapa menganggap tindakan Trump sebagai penghujatan terhadap simbol agama.
Respons dari Pemimpin AgamaPaus Leo XIV, pemimpin umat Katolik dunia, merespons situasi ini dengan menegaskan bahwa ia tidak ingin terlibat dalam perdebatan langsung dengan Trump. Meskipun demikian, Paus tetap menekankan pentingnya memperjuangkan perdamaian dan menolak perang. Ia berkomitmen untuk terus menyuarakan keprihatinannya terhadap konflik global dan pentingnya dialog antarnegara.
Uskup Agung di Amerika Serikat juga menyampaikan keprihatinan mereka terhadap sikap Trump. Uskup Agung Paul S Coakley menekankan bahwa Paus bukanlah rival politik dan tidak pantas bagi seorang presiden untuk menghina sosok yang dianggap sebagai wakil Kristus di bumi. Uskup lainnya, George Leo Thomas, juga menyatakan dukungannya terhadap Paus Leo dan mengapresiasi sebuah suara yang menentang kekuasaan saat dibutuhkan.
Dukungan terhadap Paus juga datang dari pemimpin internasional, termasuk Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Ia mengecam pernyataan Trump dan menganggap serangannya terhadap Paus tidak dapat diterima. Ia menekankan pentingnya memisahkan antara kepemimpinan agama dan politik, serta mengingatkan bahwa pemimpin agama seharusnya dapat menyuarakan kebenaran tanpa takut menerima penolakan dari pejabat pemerintahan.
Baca Juga:Paus Leo XIV Teguh Serukan Perdamaian dan Menyatakan Tak Takut dengan Pemerintahan Trump
Brilyn Hollyhand, seorang tokoh konservatif, mengecam unggahan Trump sebagai penistaan agama yang jelas. Ia menyatakan bahwa iman bukanlah alat politik, dan menekankan bahwa seorang pemimpin seharusnya tidak mengandalkan citra religius untuk mendukung diri mereka sendiri, terutama dalam konteks yang sensitif.
Megan Basham, seorang kolumnis konservatif, lebih lanjut menambahkan bahwa tindakan Trump merupakan bentuk penghujatan yang sangat keterlaluan. Ia mengkritik penggunaan citra suci dengan cara yang dianggap merendahkan makna dan nilai-nilai spiritual.
Riley Gaines, juga seorang aktivis politik, sejalan dengan penilaian Hollyhand dan Basham, mempertanyakan maupun menyoroti kurangnya kerendahan hati pada diri Trump. Isabel Brown, seorang komentator, pergi lebih jauh dengan menyatakan unggahan itu sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima, mencerminkan betapa pentingnya sensitivitas dalam menggunakan citra religius dalam konteks publik.
Baca Juga:Paus Leo XIV Desak Akhiri Perang di Timur Tengah Segera





