Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono membeberkan strategi Kementerian Pertanian (Kementan) untuk membenahi produksi gula nasional. Nantinya, langkah itu diimplementasikan lewat cara bongkar ratoon atau peremajaan sampai membuka lahan baru.
Terkait bongkar ratoon, Sudaryono menjelaskan nantinya tanaman tebu yang sudah lama akan diganti dengan varietas tebu yang lebih unggul.
“Bongkar ratoon itu penting. Jadi kita cari varietas yang standarnya bagus, dengan pengeluarannya yang bagus, sehingga rendemennya itu bagus. Dulu zaman Belanda randomnya itu bisa tiga kali lipat dibandingkan yang sekarang. Dulu tinggi sekali, kenapa sekarang turun naik, itu kita memutuskan perhatian di situ,” kata Sudaryono ditemui di Gedung Parlemen, Jakarta pada Selasa (14/4).
Menurutnya, di dunia pertanian keunggulan varietas memang sangat penting karena memegang peran pengaruh sekitar 20 sampai 30 persen untuk produksi. Maka dari itu, penggunaan varietas unggul menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Jika langkah itu dilakukan, dia optimis Indonesia bisa mencapai swasembada gula karena peningkatan produksi bisa tercapai.
“Kalau Indonesia itu bisa meningkatkan rendemennya tinggi, kembali ke zaman Belanda aja misalnya, itu bukan hanya kita ini swasembada gula, bahkan harga gulanya bisa kita turunkan,” ujarnya.
Selain bongkar ratoon, Sudaryono juga menjelaskan langkah yang juga akan dilakukan untuk meningkatkan produksi gula nasional. Langkah tersebut adalah pembukaan lahan baru.
“Mau enggak mau kita cari lahan baru yang cocok untuk penduduk, tanpa harus mengganggu ekologi. Jadi kalau tebu itu kan relatif adalah tanaman yang ada di bawah. Dia rebutan, maksudnya tanaman untuk tebu itu kadang bisa cocok di tanami padi, di tanami jagung,” kata Sudaryono.
Di samping semua langkah itu, Sudaryono juga memastikan bahwa harga pembelian petani tebu terus bagus. Dengan begitu semangat petani terjaga dan produktivitas juga dapat terus meningkat.
“Sehingga orang tuh bersemangat karena di situ ada bisnis. Jadi sebetulnya sekali lagi, kalau kita ngomong gula, ngomong hal-hal yang lain yang lain masih impor, itu peluang. Kita bisa substitusi impor. Kalau substitusi impor yang tadinya diproduksi oleh negara lain, akhirnya kita yang produksi,” ujarnya.




