FAO Peringatkan Bencana Pangan Global Imbas Gangguan Selat Hormuz

bisnis.com
15 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi berkembang menjadi krisis pangan dan pertanian global apabila distribusi input utama seperti pupuk dan energi tidak segera pulih.

Food and Agriculture Organization (FAO) memperingatkan kapal-kapal yang membawa input pertanian harus segera kembali melintasi jalur tersebut guna mencegah lonjakan inflasi pangan pada akhir tahun yang berisiko meniru dampak krisis saat pandemi Covid-19.

Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero menegaskan waktu menjadi faktor krusial, terutama bagi negara-negara miskin yang sangat bergantung pada impor pupuk dan energi.

“Kita tidak mau sampai hasil panen yang lebih rendah dan harga komoditas yang lebih tinggi serta inflasi pangan untuk tahun depan,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (14/4/2025).

Dia menambahkan, tekanan tersebut dapat mendorong pemerintah mengambil kebijakan penahan harga pangan domestik yang pada akhirnya berpotensi memicu kenaikan suku bunga dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Meski Indeks Harga Pangan FAO hingga Maret masih relatif stabil berkat pasokan yang cukup, tekanan diperkirakan meningkat mulai April dan semakin intens pada Mei, seiring petani mulai menentukan pola tanam di tengah ketidakpastian pasokan pupuk.

Baca Juga

  • Amran Soroti Warisan IMF: Impor Pangan RI Melonjak, Kementan Dorong Lartas
  • Alarm Harga Pangan Indonesia di Tengah Pusaran Disrupsi Rantai Pasok Global
  • Alarm! Harga Pangan Dunia Melonjak Imbas Perang Timur Tengah

Direktur Divisi Ekonomi Pertanian dan Pangan FAO David Laborde menyebut dunia saat ini berada dalam fase krisis input pertanian.

“Kita berada dalam krisis input; kita tidak ingin ini jadi bencana,” katanya.

FAO menilai sekitar 20%–45% perdagangan input agribisnis global bergantung pada jalur pelayaran di Selat Hormuz. Gangguan distribusi berpotensi menekan produksi karena petani terpaksa mengurangi penggunaan pupuk, yang pada akhirnya menurunkan hasil panen pada akhir tahun ini hingga 2027.

Kondisi tersebut berisiko mendorong kenaikan harga pangan global dalam jangka menengah, terutama karena pasar pupuk dan energi cenderung tidak elastis, sehingga harga dapat melonjak tajam meskipun gangguan volume relatif kecil.

FAO juga mengingatkan bahwa kebijakan proteksionis seperti pembatasan ekspor energi dan pupuk justru dapat memperburuk krisis, sebagaimana terjadi pada periode sebelumnya.

Selain itu, tingginya harga energi berpotensi mendorong peralihan lahan ke produksi biofuel, yang dapat mengurangi pasokan pangan global.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, FAO mendorong keterlibatan lembaga multilateral seperti International Monetary Fund (IMF) dalam menyediakan fasilitas pembiayaan bagi negara-negara yang kesulitan mengakses input pertanian.

Torero menegaskan bahwa berbeda dengan bencana alam atau fenomena iklim seperti El Niño, krisis di Selat Hormuz merupakan masalah yang dapat diselesaikan melalui kebijakan dan koordinasi pemerintah.

“Risikonya sangat jelas. Jika kita tidak mempercepat, risikonya akan semakin parah,” ujarnya.

FAO memperingatkan bahwa tanpa langkah cepat, kombinasi gangguan distribusi, tekanan harga energi, dan potensi El Niño dapat menciptakan “badai sempurna” yang dampaknya melampaui krisis pangan global sebelumnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Air PAM di Rawa Buaya Jakbar Kotor dan Bau, PAM Jaya Ungkap Penyebabnya
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Progres di Sumbar Lambat, Mentan Minta Rehabilitasi Sawah Terdampak Bencana Dipercepat
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Sekjen DPR Indra Iskandar Menang Praperadilan dan Status Tersangka Gugur, IniReaksi KPK
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Bansos PKH dan BPNT April 2026 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Secara Online
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Obat dan Psikologi: Kenapa Sugesti Bisa Mempengaruhi Kesembuhan?
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.