FAO Sebut Blokade Selat Hormuz Bisa Timbulkan Bencana Pangan Global

kumparan.com
16 jam lalu
Cover Berita

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengatakan kapal yang membawa input pertanian penting harus segera mulai melewati Selat Hormuz untuk mencegah risiko lonjakan harga pangan yang berbahaya di akhir tahun ini, yang dapat memicu serangkaian efek serupa dengan dampak krisis pandemi COVID-19.

Selat Hormuz jadi titik panas dalam perang AS-Israel dengan Iran. Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump mengancam memblokade Selat Hormuz karena perundingan damai yang digelar di Islamabad, Pakistan, buntu.

"Waktu terus berjalan, dan kalender tanam menempatkan negara-negara miskin pada risiko yang besar akibat kelangkaan dan mahalnya pupuk dan input energi," kata Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, dalam siaran podcast bersama Direktur Divisi Ekonomi Pangan dan Pertanian FAO, David Laborde, dikutip Selasa (14/4).

"Hal yang paling tidak kita inginkan adalah hasil panen yang lebih rendah dan dan harga komoditas yang lebih tinggi, serta inflasi pangan untuk tahun depan," kata Torero.

Menurut Torero, hal itu kemungkinan akan memaksa negara-negara untuk menetapkan kebijakan menurunkan harga pangan, memicu suku bunga yang lebih tinggi, dan akibatnya potensi pertumbuhan ekonomi jadi lebih lambat di seluruh dunia.

Blokade Selat Hormuz Bikin Petani Dihadapkan pada Pilihan yang Sulit

Indeks Harga Pangan FAO terbaru mencakup bulan Maret dan relatif stabil berkat pasokan sebagian besar komoditas pangan yang melimpah, utamanya sereal.

Namun, tekanan meningkat pada April dan akan semakin intensif pada Mei karena para petani akan mengambil keputusan apakah akan mengubah pilihan penanaman untuk beradaptasi dengan ketersediaan pupuk, serta apakah akan mengalokasikan lebih banyak lahan dan sumber daya untuk biofuel guna mendapat keuntungan dari harga minyak yang tinggi tapi mengurangi pasokan pangan global.

"Kita berada dalam krisis input; kita tidak ingin menjadikannya bencana. Perbedaannya tergantung pada tindakan yang kita ambil," kata Laborde.

FAO mendesak seluruh negara untuk mempertimbangkan dengan saksama mandat biofuel dan yang terpenting menghindari pembatasan ekspor energi dan pupuk.

Jika kebuntuan di Selat Hormuz tidak segera diakhiri, langkah antisipatif harus dipertimbangkan, khususnya meminta lembaga multilateral untuk menyediakan pembiayaan kepada negara-negara yang berisiko kehilangan akses terhadap input pupuk dasar mengingat masa tanam telah dimulai.

Fasilitas neraca pembayaran dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Jendela Guncangan Pangan (Food Shock Window), mengikuti Fasilitas Pembiayaan Impor yang disarankan FAO pada 2022, dapat digunakan sebagai fasilitas pembiayaan input yang memungkinkan negara-negara yang hari ini membutuhkan pupuk untuk mendapatkannya segera tanpa memicu persaingan subsidi yang mendistorsi.

FAO telah mengembangkan prioritas negara berdasarkan kalender tanam, berdasarkan kapan dan berapa banyak pupuk yang mereka butuhkan.

"Risikonya sangat jelas. Jika tidak dipercepat, risikonya akan semakin parah," kata Torero.

FAO mengatakan ekspor antara 20 dan 45 persen dari input pangan berbasis pertanian utama bergantung pada jalur laut melalui Selat Hormuz. Jika petani memproduksi input yang lebih sedikit, maka akan terjadi penurunan hasil panen pada akhir tahun ini dan pada 2027, dengan harga komoditas pangan yang lebih tinggi dan inflasi pangan ritel kemungkinan terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

Sebagian besar petani telah menghadapi margin keuntungan yang tipis dan jika mereka bangkrut, maka situasi pasokan pangan dunia akan memburuk dalam jangka waktu yang lebih lama.

Pembatasan perdagangan dan ekspor memperburuk lonjakan harga pangan pada krisis-krisis sebelumnya, karena upaya untuk mengisolasi pasar dalam negeri dari pasar dunia memperparah kondisi global.

Pasar pupuk dan energi bersifat inelastis, sehingga harga dapat naik jauh lebih tinggi daripada perubahan volume perdagangan. Pasar kemungkinan dapat bereaksi dengan cepat jika kapal tidak segera melewati Selat Hormuz.

Torero mengatakan tidak seperti bencana alam atau tekanan iklim seperti El Nino, blokade Selat Hormuz merupakan sesuatu yang dapat dan harus diselesaikan oleh pemerintah.

Petani telah menghadapi margin keuntungan yang tipis dan jika mereka bangkrut, situasi pasokan pangan akan memburuk dalam jangka waktu yang lebih lama.

Risiko hari ini lebih besar dibandingkan pada 2022, dan kondisi ini memungkinkan terjadinya "badai sempurna" jika turut dipengaruhi oleh El Nino yang kuat atau melampaui krisis pandemi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rupiah Terkoreksi, Dolar AS Tembus ke Rp17.110
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Tanggul Sungai Jebol, Banjir Rendam Ratusan Rumah di Majalaya Bandung
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
Wadahi Bakat Muda, Banua Super League Jadi Terobosan Pembinaan di Kalsel
• 12 jam lalutvrinews.com
thumb
Dukung Pertumbuhan Enterprise Brand di Tengah Lanskap E-Commerce Indonesia, Ini yang dilakukan SIRCLO
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Tebus Gadai Pegadaian Makin Mudah Pakai BRImo, Ada Promo Cashback!
• 9 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.