Ilmuwan di Cina memperkenalkan terobosan baru berupa tanaman hasil rekayasa genetika yang mampu bercahaya dalam gelap. Inovasi ini bisa jadi solusi baru untuk pencahayaan kota yang rendah emisi sekaligus memeriahkan pariwisata malah hari.
Tanaman tersebut dikembangkan menggunakan teknologi penyuntingan gen atau gen editing. Para peneliti mentransfer gen penghasil cahaya dari kunang-kunang serta jamur bercahaya ke dalam sel tanaman. Hasilnya, tanaman dapat memancarkan cahaya alami yang lembut tanpa listrik.
Sejauh ini, lebih dari 20 spesies tanaman telah berhasil direkayasa agar dapat bersinar di malam hari, di antaranya bunga matahari, anggrek, dan krisan. Para peneliti baru-baru ini memamerkan spesimen tanaman bercahaya tersebut di Zhongguancun Forum 2026 yang digelar pada akhir Maret lalu.
Wilayah Zhongguancun di Beijing dikenal sebagai Silicon Valley-nya Cina. Zhongguancun Forum adalah forum tahunan yang berfokus pada inovasi teknologi, sains, dan kerja sama global di bidang riset.
Diberitakan Euronews, pengembangan teknologi ini tidak lepas dari pengalaman personal salah satu penelitinya yaitu Dr. Li Renhan, pendiri perusahaan bioteknologi Magicpen Bio yang adalah doktor dari China Agricultural University.
“Saya lahir di pedesaan. Saat itu, keluarga saya tidak punya banyak uang. Jadi pada malam hari, saya hanya bisa berbaring di hammock di kebun bambu milik kakek untuk mendinginkan diri. Kunang-kunang sering hinggap di lengan saya,” ujarnya, seperti dikutip dari Euronews, Selasa (14/4).
Bertahun-tahun kemudian, ketika tengah mempelajari penyuntingan gen, Li mulai mengeksplorasi kemungkinan untuk mentrasfer kemampuan menghasilkan cahaya pada hewan ke tanaman. Intinya, menciptakan tanaman yang dapat menyala secara alami di malam hari.
Dia ingin mendedikasikan teknologi ini untuk wisata budaya dan kegiatan ekonomi malam hari. “Bayangkan lembah yang penuh dengan tanaman yang bercahaya dalam gelap, itu akan seperti membawa dunia dalam dilm “Avatar” ke dunia nyata,” ujarnya.
Li optimistis tanaman ini bisa jadi solusi pencahayaan alternatif yang lebih ramah lingkungan di masa depan. “Mereka hanya memerlukan air dan pupuk. Teknologi ini dapat menghemat energi, mengurangi emisi, dan membantu menerangi kota di malam hari,” ucapnya.




