Bisnis.com, PARIAMAN - Pemerintah Kota Pariaman, Sumatra Barat, menjalin kerja sama dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda) terkait distribusi hasil pertanian ke Jakarta.
Wali Kota Pariaman Yota Balad mengatakan kolaborasi ini merupakan langkah besar bagi kesejahteraan petani di daerahnya. Artinya kerja sama ini membuat rantai distribusi hasil tani menjadi lebih pendek dan harga di tingkat petani diharapkan lebih stabil.
"Kami percaya bahwa di era sekarang, kemajuan sebuah daerah tidak bisa dicapai sendirian. Makanya sangat terbuka untuk kolaborasi, seperti halnya dengan PT Food Station,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (14/4/2026).
Dia menyebutkan collaborative governance adalah kunci dan kerja sama antara Pemkot Pariaman dengan Pemprov DKI Jakarta, dapat memperluas pangsa pasar hasil pertanian di Pariaman.
“Kami tidak lagi bingung memasarkan hasil pertanian. Dengan PT Food Station sebagai penyerap (offtaker), standardisasi dan kualitas produk kita akan meningkat ke level nasional, “ ungkapnya.
Yota Balad menjelaskan dari luas Kota Pariaman sebesar 6.497 hektare, tercatat 1.627 hektare merupakan lahan sawah (25,04%), dengan produksi padi sebanyak 21.474,9 ton pada 2025.
Baca Juga
- Ketergantungan Beras Sulit Dipatahkan, Kapan Diversifikasi Pangan Terwujud?
- Dirut Bulog: Harga Beras Tak Naik Meski Harga Plastik Kemasan Mahal
- Stok Beras Tembus Rekor, Mentan Yakin Bisa Tahan 11 Bulan Meski Ada El Nino
Data Statistik Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kota Pariaman Tahun 2025, produktivitas padi di Kota Pariaman sebesar 5,50 ton per hektare dengan indeks pertanaman 2 kali dalam setahun. “Beras Kota Pariaman merupakan jenis beras pera yang masuk dalam kategori beras khusus,” sebutnya.
Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy berharap model kerja sama Business-to-Government (B2G) dan hal tersebut adalah sinergi yang konkret. “Sumbar punya komoditas, Jakarta punya pasar. Pertemuan ini adalah jembatan untuk kemajuan ekonomi kerakyatan di Sumbar," ujarnya.
Wagub menyampaikan Sumbar sebagai salah satu lumbung pangan nasional menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Meskipun luasnya pada 2025 mengalami sedikit penurunan sekitar 284 ribu hektare, tapi produksinya jauh meningkat.
Dikatakannya dalam sektor produktivitas dan efektivitas pertanian, Sumbar meningkat tahun ini untuk konteks pertanian. Produksi gabah dan beras juga menunjukkan tren positif yang menandakan bahwa produktivitas pertanian semakin membaik.
Menurutnya hal tersebut membuktikan bahwa upaya transformasi yang didorong melalui benih unggul, mekanisasi, dan perbaikan manajemen mulai memberikan hasil yang nyata.
Kendati demikian, lanjut Vasko, capaian tersebut bukanlah titik akhir. Ke depan, penting meningkatkan kolaborasi seperti yang dilakukan Pariaman dengan Pemprov DKI Jakarta.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang menyaksikan langsung prosesi penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) mengatakan, kerja sama strategis tersebut difokuskan pada pengembangan sektor pertanian dan distribusi hasil bumi dari Kota Pariaman menuju pasar ibu kota.
Dia menekankan bahwa Jakarta memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan pangan dari daerah lain. Menurutnya, Kota Pariaman memiliki potensi lahan dan kualitas produk pertanian yang sangat baik untuk memenuhi kebutuhan pasar Jakarta melalui PT Food Station.
"Ini merupakan kunjungan ketiga saya ke Sumbar, dan saya datang hari ini untuk menyaksikan MoU antara Food Station Jakarta dengan Rice Mile dari kelompok tani yang ada di Kota Pariaman,” ucap dia.
Rano Karno bilang Jakarta tidak punya lahan dan Jakarta hanya punya fiskal. Oleh karena itu, Food Station melakukan contract farming dengan beberapa pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan pangan Jakarta yang potensinya luar biasa.
“Jakarta sangat memerlukan support dari pemerintah daerah, maka dari itu mungkin bisa dilakukan kerja sama karena Kota Pariaman punya hasil tani yang luar biasa. Kerja sama ini bukan sekadar bisnis, tapi tentang menjaga kedaulatan pangan antardaerah," ujarnya.
“Semoga Kota Pariaman mampu memenuhi permintaan kami, dan seperti saat ini, Jakarta mengimpor sapi dari Australia setiap periode hampir 15.000 ekor. Nah kalau memang di sini mungkin bisa budidaya, kenapa tidak kita bisa lakukan itu,“ tegasnya.





