PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) mengusulkan kepada pemerintah agar tarif impor liquefied petroleum gas (LPG) sebagai bahan baku industri diturunkan menjadi 0 persen.
Corporate Planning General Manager LCI, Lee Dae Lo, mengatakan saat ini Indonesia masih menerapkan tarif impor LPG sebesar 5 persen. Padahal sejumlah negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand tidak mengenakan bea masuk untuk komoditas tersebut.
“LCI ingin mengajukan permohonan kepada pemerintah Indonesia mengenai tarif impor LPG, ada tarif impor 5 persen di Indonesia. Tetapi di negara lain, misalnya Singapura, Malaysia, dan Thailand tidak ada tarif impor jika perusahaan mengimpor LPG dari negara lain,” kata Lee di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (14/14).
Selain LPG, LCI juga berharap pemerintah dapat membantu pasokan nafta bagi industri dalam negeri. Dia menyebut jika pemerintah dapat menyediakan nafta untuk pelaku industri seperti LCI akan sangat membantu menjaga keberlangsungan operasional.
Permintaan ini disampaikan di tengah tekanan besar yang dihadapi industri akibat perang AS-Israel dengan Iran. Perang berdampak langsung terhadap pasokan bahan baku petrokimia, khususnya dari kawasan Timur Tengah.
Lee mengungkapkan, perang tersebut membuat operasional pabrik LCI di Cilegon harus diturunkan. Saat ini, perusahaan mengalami kekurangan pasokan bahan baku seperti nafta dan LPG.
“Saat ini kami sangat kekurangan bahan baku, misalnya nafta dan LPG. Itulah mengapa kami ingin terus membeli bahan baku dari negara lain, tetapi sangat sulit untuk mendapatkan bahan baku kami,” tuturnya.





