Nilai tukar rupiah melemah 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp17.127 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (14/4/2026) sore.
Ibrahim Assuaibi pengamat mata uang dan komoditas mengatakan, pelemahan rupiah disebabkan oleh potensi tekanan Amerika Serikat untuk memperluas blokade yang mencakup Selat Hormuz hingga Teluk Oman.
“Militer AS mengatakan pada hari Senin (13/4/2026) bahwa blokade mereka terhadap Selat Hormuz akan meluas ke timur hingga Teluk Oman dan Laut Arab, sementara data pelacakan kapal menunjukkan dua kapal berbalik arah di selat tersebut saat blokade mulai berlaku,” ucapnya yang dilansir dari Antara.
Sebelumnya, Komando Pusat (CENTCOM) AS mulai memblokade jalur maritim strategis tersebut pada Senin, setelah perundingan antara Washington dan Teheran gagal dicapai di tengah gencatan senjata.
CENTCOM mengatakan, blokade akan diberlakukan “dengan tidak membeda-bedakan kapal-kapal dari semua negara” yang singgah di pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman, dan menambahkan bahwa kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz ke pelabuhan selain Iran tidak akan terpengaruh.
“Sebagai tanggapan, Iran mengancam akan menargetkan pelabuhan di negara-negara yang berbatasan dengan Teluk setelah runtuhnya pembicaraan akhir pekan di Islamabad yang bertujuan untuk menyelesaikan krisis tersebut,” kata dia.
Di sisi lain, tanda-tanda potensi dialog AS-Iran untuk mengakhiri perang mengurangi kekhawatiran tentang risiko pasokan yang berasal dari blokade AS terhadap Selat Hormuz.
“Sumber yang mengetahui negosiasi tersebut mengatakan dialog antara Iran dan AS masih berlangsung, sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan upaya yang sedang berlangsung untuk meredakan ketegangan,” ujar Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.135 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.122 per dolar AS. Pada penutupan sebelumnya, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.105 per dolar AS. (ant/ily/saf/ipg)




