FedEx Kaji Dampak Lonjakan Harga Avtur terhadap Biaya Logistik

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan jasa pengiriman global asal Amerika Serikat (AS), FedEx, tengah mengkaji dampak kenaikan harga avtur terhadap struktur biaya logistik perusahaan.

Senior Manager Operations FedEx, Ida Ayu Eka Restini mengatakan, hingga saat ini perseroan belum melakukan penyesuaian tarif kepada pelanggan meskipun terjadi lonjakan harga bahan bakar pesawat.

“Kenaikan biaya pengiriman sampai saat ini belum ada. Tetapi kami memonitor dan masih kami lihat apakah nanti memang harus dinaikkan,” ujar Ayu di Jakarta, dikutip Selasa (14/4/2026).

Lebih lanjut, dia mengatakan, sejauh ini FedEx memang sudah mengenakan tarif fuel surcharge, atau biaya tambahan yang dikenakan oleh perusahaan kepada pelanggan untuk mengimbangi fluktuasi harga bahan bakar.

Meski demikian, perseroan belum melakukan penyesuaian terhadap fuel surcharge tersebut karena masih mencermati dinamika harga avtur di pasar global. Apabila terdapat perubahan kebijakan, perusahaan akan terlebih dahulu menyampaikan kepada pelanggan.

“Kami akan terus monitor kondisinya, karena kan terus berubah, ya. Mungkin nanti itu tidak bisa dihindari, kami harus menaikkan, tapi pasti kami akan kabari konsumen kami terlebih dahulu,” jelasnya.

Baca Juga

  • Lonjakan Avtur Picu Harga Tiket Pesawat Naik, Ongkos Haji Ikut Terdampak?
  • Tok! Bahlil Tetapkan Mandatori Bioavtur Mulai 2027
  • Garuda Indonesia (GIAA) Optimalkan Rute dan Frekuensi Hadapi Tekanan Avtur

Ayu menjelaskan, saat ini FedEx memiliki armada pesawat sendiri. Alhasil, hal tersebut memberikan fleksibilitas bagi FedEx dalam mengelola biaya operasional sekaligus memperkirakan potensi dampak kenaikan harga energi ke depan

Di Indonesia, basis pelanggan FedEx didominasi oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang aktif melakukan ekspor berbagai komoditas, mulai dari produk tekstil, furnitur, kerajinan tangan, hingga hasil peternakan.

Sebagai informasi, kenaikan harga avtur terjadi seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada pasar energi global. Harga avtur tercatat melonjak signifikan hingga sekitar 70% per 1 April 2026.

Di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK), misalnya, harga avtur domestik pada periode 1–31 Maret 2026 berada di level Rp13.656,51 per liter, kemudian meningkat menjadi Rp23.551,08 per liter pada periode 1–30 April 2026 atau naik 72,45% secara bulanan.

Sementara itu, secara global, data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan harga rata-rata avtur mingguan di kawasan Asia per 27 Maret 2026 mencapai US$208,79 per barel, atau melonjak 134,1% secara bulanan dan 140,5% secara tahunan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mendagri Tito Tegaskan Pemerintah Siap Perkuat Pengawasan dan Optimalisasi Dana Otsus
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
AS Mulai Blokade Selat Hormuz, China Bakal Umumkan Kabar Genting
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pajak Tinggi Bikin Harga Mobil RI Mahal, Tarifnya Bisa 40%
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Potret Jalan Ambles di Dewi Sartika Jaktim, Suara Benturan Terdengar saat Motor Hantam Lubang
• 10 jam laluliputan6.com
thumb
Pimpinan Komisi VIII ke Menhaj: Jangan Ada Korupsi-Kartel Haji, Tarik Orang Lama
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.