Kadin Jatim Dorong Demand-Driven Research untuk Perkuat Industri

tvrinews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Masrul Fajrin

TVRINews, Surabaya

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa sejauh ini riset yang dilakukan hanya terhenti pada publikasi. Adopsi riset oleh industri dinilai sangat minim, padahal untuk mendorong transformasi ekonomi di Jawa Timur membutuhkan sinergi yang kuat antara dunia riset dan industri.

Hal ini disampaikan dalam paparan bertajuk “Dari Riset ke Dampak: Sinergi Inovasi dan Industri untuk Transformasi Jawa Timur” dalam kegiatan Dialog Strategis "Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Week Universitas Airlangga" di Kampus Unair, Surabaya, Selasa, 14 April 2026.

Lebih jauh, Adik mengungkapkan bahwa secara makro, posisi Jawa Timur dalam perekonomian nasional tergolong sangat strategis. Pada 2025, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi ini mencapai sekitar Rp3.403 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,33 persen. Jawa Timur juga menjadi salah satu kontributor utama terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Dari sisi struktur ekonomi, sektor industri pengolahan menyumbang sekitar 31 persen, sementara konsumsi rumah tangga mendominasi hingga 60 persen. Selain itu, sektor transportasi dan logistik menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, yakni di atas 9 persen, menandakan semakin kuatnya peran Jawa Timur sebagai pusat distribusi. 

“Peran strategis Jawa Timur semakin terlihat sebagai hub manufaktur dan logistik di kawasan Indonesia Timur, sekaligus menjadi basis utama ekspor nasional. Dengan fondasi tersebut, Jawa Timur dinilai telah memiliki kekuatan skala ekonomi yang solid,” kata Adik, Selasa, 14 April 2026.

Namun ada tantangan yang belum terselesaikan, yaitu  meningkatkan kelas ekonomi melalui inovasi yang berdampak pada terciptanya efisiensi di berbagai sektor. Padahal peningkatan efisiensi sebesar 1 persen saja diperkirakan mampu memberikan dampak ekonomi hingga puluhan triliun rupiah.

“Masih terdapat persoalan mendasar yang menghambat optimalisasi potensi tersebut, yakni kesenjangan antara riset dan industri. Meskipun kapasitas riset terus meningkat, banyak hasil riset yang berhenti pada tahap publikasi dan belum diimplementasikan secara luas. Keterlibatan industri dalam proses riset juga masih minim, sehingga adopsi hasil penelitian menjadi rendah,” ujar Adik.

Selain itu, belum adanya mekanisme hilirisasi yang kuat membuat hasil riset sulit diterjemahkan menjadi produk atau solusi yang bernilai ekonomi. Kondisi ini menyebabkan ketimpangan, di mana Indonesia, termasuk Jawa Timur, kuat dalam menghasilkan output riset, namun lemah dalam menciptakan dampak ekonomi nyata.

“Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara akademisi, peneliti, pelaku industri, dan pemerintah agar inovasi yang dihasilkan benar-benar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tukasnya.

Ia menegaskan, transformasi riset di Jawa Timur harus mulai diarahkan pada perubahan paradigma yang lebih relevan dengan kebutuhan industri. Pendekatan lama yang bersifat supply-driven, di mana akademisi menentukan topik riset, dinilai sudah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan ekonomi saat ini. 

“Diperlukan pergeseran menuju pendekatan demand-driven research, yakni riset yang berbasis pada kebutuhan nyata industri," kata Adik.

Dalam paradigma baru ini, lanjutnya, pelaku industri memiliki peran lebih besar dalam menentukan arah dan kebutuhan riset. Sementara itu, Kadin mengambil posisi strategis sebagai agregator kebutuhan industri sekaligus jembatan penghubung antara dunia kampus dan sektor industri. 

“Kadin juga berperan sebagai fasilitator dalam proses implementasi hasil riset agar dapat diadopsi secara nyata,” tandasnya.

Sejalan dengan perubahan tersebut, disusun agenda riset strategis yang berfokus pada tujuh prioritas utama. Pertama, inovasi produk untuk meningkatkan nilai tambah industri pengolahan. Kedua, inovasi proses produksi guna mendorong efisiensi dan produktivitas. Ketiga, inovasi pemasaran yang menekankan pada penguatan digitalisasi dan penetrasi pasar global.

Selanjutnya, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) menjadi pilar penting dalam pengambilan keputusan berbasis data. Aspek keberlanjutan dan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) juga menjadi perhatian utama sebagai syarat untuk mengakses pasar global. 

Di sisi lain, penguatan tata kelola dan regulasi diharapkan mampu menjadi enabler pertumbuhan ekonomi. Terakhir, pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kompetensi difokuskan pada upaya link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Untuk memastikan agenda tersebut berjalan efektif, disusun kerangka implementasi yang konkret. Langkah pertama adalah pembentukan Industrial Problem Bank, yaitu basis data yang memuat kebutuhan dan permasalahan industri secara terstruktur. 

Kedua, pembentukan Joint Research Task Force yang melibatkan kolaborasi antara Kadin, perguruan tinggi seperti Universitas Airlangga (Unair), serta lembaga riset seperti BRIDA dan BRIN.

Langkah ketiga adalah pelaksanaan proyek percontohan hilirisasi riset, yang mencakup komersialisasi hasil penelitian, program inkubasi, serta adopsi oleh industri. 

Proses ini juga didukung oleh pendanaan hibah riset terapan dari pemerintah, sehingga hasil riset tidak berhenti pada tataran akademis, melainkan mampu memberikan dampak ekonomi nyata.

“Dengan pendekatan ini, Kadin berharap tercipta ekosistem inovasi yang lebih terintegrasi, di mana riset tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga solusi konkret yang mampu mendorong pertumbuhan industri dan daya saing ekonomi Jawa Timur,” pungkasnya.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Distribusi Tembus 40 Ribu Toko, Avian (AVIA) Bidik Kendali Lebih Besar di Dextone
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Lawan Hoaks AI, Komdigi Dorong Literasi Digital dan Etika Jurnalistik
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Anggota DPRD Sulsel Yosia Rinto Protes Keras! Titik Proyek Jalan di Mappak-Simbuang Tana Toraja Salah Sasaran
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Ciri-ciri Warna Daging Segar yang Cocok buat Steak Kata Ahli
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Freeport Ramal Bisa Setor Rp54 Triliun ke Negara di 2026
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.