VIVA –Ribuan warga di Kota Fujisawa, Jepang melakukan aksi demonstrasi untuk menolak rencana Pembangunan masjid besar pertama di wilayah tersebut. Aksi yang digelar pada Minggu 12 April kemarin memicu perdebatan luas di kalangan pengguna media sosial.
Lantas apa yang sebenarnya terjadi? Melansir akun Instagram @japandaily_japan, dalam aksi yang diorganisasi oleh aktivis Kawai Yusuke peserta demonstrasi menyampaikan kekhawatiran mereka. Mulai dari ke kemungkinan meningkatnya kemacetan lalu lintas, kebisingan dari panggilan salat (adzan), potensi tuntutan penyediaan makanan halal, serta perbedaan praktik pemakaman dibandingkan dengan kebiasaan kremasi yang umum di Jepang.
Selain itu aksi penolakan terhadap pembangunan masjid ini juga terkait dengan ukuran masjid yang lebih besar. Disebutkan bahwa bangunan masjid yang diusulkan dibangun di tempat tersebut dilaporkan jauh lebih besar dari kuil Shinto bersejarah yang berada di sekitarnya dan dianggap sebagai ‘tindakan provokasi’ terhadap warisan Jepang.
“Kami tidak menginginkan satu pun masjid, atau pemakaman Muslim di sini!” demikian pernyataan demonstran seperti yang diunggah di akun X @MeghUpdates.
Sementara itu, berdasarkan laporan Japan Daily, diketahui masjid dibangun dua lantai di atas lahan seluas 1.000 meter persegi. Bangunan ini juga diketaui telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah kota
Sementara itu, perwakilan dari Masjid mengaku telah berupaya menenangkan situasi ini dengan menyatakan bahwa pihaknya akan tetap mematuhi peraturan.
“Kami mencintai Jepang, kami akan memenuhi peraturan,” demikian pernyataan dari pihak masjid seperti dikutip dari laman News 18, Rabu 15 April 2026.
Namun, sayangnya bagi banyak warga setempat, kekhawatiran akan apa yang mereka anggap sebagai perubahan demografis secara perlahan masih terasa nyata.
Di sisi lain, kelompok tandingan menuduh para pengunjuk rasa bersikap diskriminatif, yang sempat memicu kericuhan kecil dan menyebabkan kehadiran aparat kepolisian dalam jumlah besar. Peristiwa ini mencerminkan meningkatnya perdebatan di Jepang seiring dengan bertambahnya populasi Muslim yang kini mencapai sekitar 420.000 orang, sehingga mendorong pembangunan lebih banyak masjid di berbagai wilayah. Pihak berwenang masih terus memantau perkembangan situasi tersebut.





